AL-QUR’AN PUNCAK PEWAHYUAN ALLAH DALAM ISLAM

 Pengantar

 20111214233939485Sejak diadakannya Konsili Vatikan II, Wajah Gereja Katolik lambat laun berubah. Keteguhan hati memegang prinsip “extra ecclesia nulla salus”, mulai mencair dan mulai memandang adanya keselamatan di luar Gereja. Secara jelas Konsili menyatakan sikapnya terhadap umat Islam dalam Nostra Aetate (NA) 2 di mana Gereja menghargai umat Islam yang menyembah Allah yang Esa, dan berusaha menyerahkan diri dengan sepenuh hati seperti Abraham yang telah menyerahkan diri kepada Allah. Al-Qur’an sebagai Sabda Allah yang diwahyukan memegang peranan penting dalam upaya manusia (umat muslim) mencapai keselamatan itu. Buku berjudul “Al-Qur’an sebagai Sabda Allah” mencoba memperkenalkan secara singkat mengenai Al-Qur’an secara lebih seimbang.

Teks Al-Quran

Al-Qur’an merupakan teks utama agama Islam karena diyakini oleh orang Muslim hasil pewahyuan Allah secara langsung kepada Sang Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Pewahyuan ini merupakan puncak pewahyuan dari berbagai pewahyuan sebelumnya dan mempunyai pertalian pada pewahyuan Yahudi dan Kristen.

Adapun dalam proses pewahyuan ada hal yang menarik yaitu doktrin paham pre-eksistensi Al-Qur’an. Orang-orang Muslim percaya bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah sendiri. Teks aslinya adalah sebuah jilid atau lembaran (tablet) yang menjadi buku Induk Kitab, yang dari padanya kemudian terjadinya penggandaan. Kitab ini tersimpan di Surga. Namun, uniknya Al-Qur’an dan tradisi Islam sendiri fakta bahwa pewahyuan itu tidak sekali jadi dalam suatu waktu tetapi dalam bagian-bagian terpisah. Pewahyuan itu diturunkan bab demi bab, kadang ayat per ayat. Pewahyuan ini merupakan tindakan Ilahi secara eksklusif dan tindakan bebas otoritas ilahi di mana manusia tidak dapat menuntut atau memintanya. Sabda Allah diwahyukan dalam konteks tertentu untuk menanggapi situasi tertentu pula. Allah melalui Malaikat Jibril sebagai perantara, mewahyukan kepada manusia lewat sang Nabi. Nabi hanya pasif mendengarkan saja. Selanjutnya Nabi harus menghafalkan, dan menyampaikan kepada para pengikutnya tanpa mengurangi dan menambahinya.

Dalam proses selanjutnya, ada proses penting dari proses memorisasi (pengingatan), transmisi (penerusan), dan transkripsi (penulisan) dari pewahyuan itu. Terakhir adalah proses kanonisasi.

 

 Isi Pokok Al-Quran

Dalam buku ini, diungkapkan isi pokok Al-Qur’an sebagai Sabda Allah. Dapat dikatakan bahwa tema pokok Al-Qur’an adalah menyangkut hubungan antara Allah dan manusia. Al-Qur’an adalah sabda Allah sendiri yang mengundang manusia untuk memahami kemahakuasaan Allah atas semua yang hidup dan mengundang manusia untuk menyerahkan diri kepada kehendakNya. Isi pokok ini diuraikan menjadi 3 hal besar.

Pertama, Doktrin fundamental dari Al-Qur’an adalah bahwa “tiada Tuhan selain  Allah”. Al-Qur’an menggunakan kata Allah itu sebagai nama diri Allah. Nama ini hanya diterapkan untuk Allah yang Esa, dan tidak dapat diterapkan pada sesuatu yang lain. Dalam berbagai tempat di dalam Al-Qur’an ditemukan kata Allah sebanyak 2.500 kali untuk menunjuk dia yang Transenden, sang Pencipta, Penguasa satu-satunya, dan ia tidak mempunyai anak (bdk. Q 17:111). Allah juga digambarkan dengan “nama-Nya yang sangat Indah” (al-asma’ al-husna) yang secara tradisional berjumlah sembilan puluh sembilan gelar. Dari jumlah itu, sifat-sifat Allah yang paling penting adalah Pencipta yang Maha Kuasa, Yang Maha Murah, dan Hakim yang tegas.

Kedua, Dalam Al-Qur’an (Q 4:36), manusia dipanggil oleh Allah untuk Menyembah hanya Dia. Inilah inti panggilan manusia. Pada hakekatnya kedudukan manusia sangat kontras dengan Allah. Allah sebagai Pencipta sementara manusia adalah ciptaan yang bergantung pada-Nya. Maka di hadapan keabsolutan kuasa Allah atas hidupnya, sikap manusia yang tepat adalah taat dan dengan rendah hati menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah. Al-Quran juga mengajarkan bahwa kewajiban manusia beriman yang paling penting adalah mengejar nikmat dari Allah dan perjumpaan akhir dengan Dia.

Relasi ini secara khusus dan tepat terungkap dalam kata islam. Dari akar kata Arab “s-l-m” yang bermakna “menyerah” atau “berpasrah”, Islam memuat sebuah kepasrahan total  dan personal kepada kehendak Allah. Simbol yang paling nampak dari penyerahan diri itu termuat dalam sebuah formula dari kesaksian (shahada) yang menjadi pengakuan iman orang Islam: tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah. Shahada ini mau menegaskan kontinuitas atau purifikasi dari mithaq, perjanjian Allah dan Manusia yang dibangun lewat pewahyuan dalam pra-keabadian, dan akhirnya berpuncak dalam pewahyuan Al-Qur’an dan kenabian Mumammad. Dalam tradisi Islamik, Shahada menjadi tugas agama yang pertama, di mana orang menyerahkan diri memeluk Islam. dari pengakuan hati dan lidah ini, lahir kewajiban prinsipiil lainnya, ibadah ritual atau doa formal (salat), amal derma (zakat), puasa selama bulan Ramadhan, dan berjiarah (hajj) ke ka’bah di Mekkah.

Ketiga, Ajaran quranik penting lainnya adalah pemisahan secara tegas antara dunia sekarang (al-dunya) dan akan datang (al-akhira). Al-Qur’an mengajarkan bahwa kehidupan sekarang, merupakan persiapan menuju akhirat (bdk. Q 2:156). Situasi untuk kembali kepada Allah membutuhkan persiapan yang konstan (jihad) sampai akhir. Pertanggungjawaban akhir atas tindakan manusia di dunia akan diminta oleh Allah Sang Pencipta, penegak dan Hakim yang adil dan berbelas kasih. Al-Qur’an hanya menawarkan dua alternatif bagi manusia di Dunia Akhirat. Pertama, Bagi mereka yang mengusahakan perjuangan untuk melaksanakan perintah-Nya akan hidup dalam tempat penuh kenikmatan yang disebut jannah (“taman”) atau firdaws (“taman Eden”) atau surga. Kedua, mereka yang tidak percaya dan setia (kafir) hidup dengan penuh siksaan dalam api neraka atau jahannam.

 Peran Sentral Al-Quran dalam Kehidupan Kaum Muslim

Paling tidak ada tiga peran sentral Al-Qur’an bagi kehidupan manusia yang beriman dan menyerahkan diri:

Pertama, daya kekuatan Sabda Allah yang didaraskan. Karena sejak awal proses Pewahyuan, maka selanjutnya pewahyuan itu semestinya didaraskan atau dibacakan seturut perintah Allah. Pengucapan doa yang didaraskan mempunyai peran sentral dalam ritus dan devosional muslim. Orang tidak dapat melaksanakan salat bila tak sanggup melafalkan ayat tertentu dari Al-Qur’an dalam bahasa Arab yaitu Al-Fatihah. Orang tidak boleh mendaraskan tanpa menyucikan diri karena ia akan menjadi jalan bagi A-Qur’an, dan sesungguhnya sedang berbicara dengan Allah. Aspek oral-aural atau mendaraskan-mendengarkan Al-Qur’an yang menjadi akar perannya dalam kehidupan dan praktek-praktek religius muslim merupakan dimensi esensial dari struktur pewahyuan itu sendiri. Pendarasan Al-Qur’an menjadi tanda komunikasi Allah yang terus-menerus dengan mereka yang menyerahkan diri kepada-Nya.

Kedua, Sabda Allah yang Tertulis. Bagaimanapun, Sabda Allah yang diwartakan diteruskan dalam bentuk Al-Qur’an tertulis, tetap mempunyai kedudukan yang sama kuat dengan sabda Allah yang didaraskan. Maka sakralitas teks Al-Qur’an mendapat bentuknya, dan menjadi otoritas religius dan moral bahkan sebagai dasar utama hukum Shari’a. Karena kesuciannya, maka Al-Qur’an perlu mendapat perlakuan khusus tidak hanya dijaga dalam pemeliharaan bahasa Arab yang ketat namun juga dalam seni budaya yang melingkupinya (kaligrafi).

Ketiga, Daya Al-Qur’an dalam kehidupan Kaum Muslim. Bagi kaum muslim dimensi oral dan tertulis dari Al-Qur’an itu tak terpisahkan karena merupakan tanda kehadiran dan aksesibilitas sabda Allah di dunia. Al-Qur’an menjadi pedoman dalam peziarahan hidup umat Muslim di dunia ini menuju kehidupan masa mendatang, yang menjadi sumber berkat dan peraantara kepada Allah pada hari Pengadilan.

 Sebuah Catatan Kritis

Setelah membaca dan kemudian mencoba memahami, penulis mencoba menarik kesimpulan dan pendapat pribadi berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai Puncak pewahyuan bagi orang Muslim dalam perspektif iman Katolik. Penulis melihat ada “kesejajaran” antara Al-Qur’an dan Yesus Kristus, meski orang Islam sendiri menganggap Yesus Kristus sejajar dengan Muhammad yaitu sebatas nabi yang menjadi perantara pewahyuan. Keduanya menjadi “mediator” antara Allah dan manusia, realitas sentral dalam sentral dalam kehidupan komunitas dan sumber dari misinya (hal. xvii). Keduanya dipercaya dan diimani oleh para pengikutnya masing-masing sebagai puncak Pewahyuan, Al-Qur’an bagi umat Muslim dan Yesus Kristus bagi orang Katolik. Keduanya tidak tercipta dan kekal serta tinggal bersama dengan Allah. Keduanya menjadi sentral kehidupan komunitas beriman.

Namun, ada catatan kritis yang perlu diperhatikan dan dicermati. Bagi orang Muslim, Pewahyuan Sabda Allah dalam bentuk Al-Quran itu disampaikan melalui perantara, yaitu Malaikat Jibril. Namun, bagi orang Katolik, Pewahyuan bukanlah lewat perantara, tetapi Sabda Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia dalam peristiwa Inkarnasi (bdk. Yoh 1:14). Wahyu dalam Katolik bukanlah sabda yang diam dan terwujud dalam ajaran atau tulisan yang harus diingat, dihafal dan disampaikan tanpa menambah atau menguranginya, Namun Sabda yang Hidup dalam rupa manusia. Hakikat wahyu Kristiani dalam peristiwa Inkarnasi bukan hanya bahwa Allah memberikan keselamatan kepada manusia dan memberitahukan jalan menuju keselamatan, tetapi terutama ia memperkenalkan diriNya sendiri.[1]

Kedua, dalam buku ini juga disinggung mengenai perbandingan penerima wahyu pertama, yaitu Nabi Muhammad dengan Perawan Maria (hal.17). Keduanya dipilih secara khusus oleh Allah untuk menerima Pewahyuan Allah dalam rupa sang Sabda, Al-Qur’an bagi umat Islam dan Yesus Kristus bagi orang Katolik. Pewahyuan Allah disampaikan oleh Malaikat Jibril (Gabriel bagi orang Kristen) kepada Muhammad. Pesan Pewahyuan Allah disampaikan oleh Malaikat Gabriel kepada perawan Maria.

Namun ada juga catatan kritis, bahwa keduanya tidak dapat disamakan begitu saja. Dalam Pewahyuan Al-Qur’an peran Muhammad hanya sebagai penerima saja atau pasif. Muhammad hanya mendengarkan apa yang didiktekan oleh Malaikat Jibril, mengingat dan menyimpannya dalam memorinya, dan menyampaikan kepada pengikutnya tanpa menambahkan atau mengurangi sepatah katapun. Namun ini berbeda dengan Maria. Maria mempunyai peran aktif yang sangat besar dalam penyampaian Wahyu Allah kepada manusia. Proses dialog terjadi antara malaikat dan Maria yang akhirnya sampai pada ketaatan total penuh kesadaran. Maria menerima rencana Penyelamatan Allah lewat rahimnya, yang secara manusiawi tidaklah mudah. “Maria mempercayakan dirinya kepada Allah sepenuhnya, dengan “menundukkan akal dan kehendaknya”, yang menunjukkan ketaatan iman” kepada Allah, yang berbicara kepadanya melalui utusan. Dengan demikian tanggapan iman Maria ini merangkum baik kerjasama sempurna dengan “rahmat Allah yang mendahului dan membantu” maupun keterbukaan penuh kepada Roh Kudus, yang selalu menyempurnakan iman dengan kurnia-kurniaNya”.[2]

Adanya kerjasama menandakan peran aktif Maria pula. Bahkan dalam seluruh hidupnya, Maria berperan aktif juga untuk mewartakan Pewahyuan Allah dalam diri sang Putra, yang menjadi saksi dalam perjalanan hidup, sengsara wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Maria juga menyertai peziarahan hidup Gereja dan Para Rasul yang adalah wujud komunitas yang mengimani Yesus Kristus. Keduanya “dipersatukan dalam iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus” sang Wahyu Ilahi.[3]

DAFTAR PUSTAKA

Dister, Nico Syukur,

1991    Pengantar Teologi, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Heijden, Bert van der,

1986    “Wahyu Allah dan Iman kita” dalam: JB. Banawiratma SJ (ed.), Wahyu, Iman, Kebatinan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Prasetyantha, Y.B.,

2010    Al-Qur’an sebagai Sabda Allah, Penerbit Amara Books, Yogyakarta.

Tim Penulis Gereja Katolik,

1995    Katekismus Gereja Katolik, Percetakan Arnoldus, Ende.

Yohanes Paulus II,

1987    Ibunda Sang Penebus, Surat Eksiklik “Redemtoris Mater” (terj.), Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Jakarta.


[1] B. van Der Heijden SCJ, “Wahyu Allah dan Iman kita” dalam: JB. Banawiratma SJ (ed.), Wahyu, Iman, Kebatinan, Yogyakarta 1986, 15.

[2] Yohanes Paulus II, Ibunda Sang Penebus, Surat Eksiklik “Redemtoris Mater” (terj.), Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Jakarta 1987, 18.

[3] Yohanes Paulus II, Ibunda Sang Penebus, Surat Eksiklik “Redemtoris Mater” (terj.), 58.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s