JIWA MENURUT JOHANES DUNS SCOTUS

Ada 4 hal mengenai jiwa menurut Scotus:

1. Jiwa rasional merupakan forma khusus dari manusia dapat dibuktikan secara filosofis. Manusia mengerti secara formal dan tepat, maka jiwa intelektual adalah forma tepat manusia. Melaksanakan kegiatan intelektual di dalam pengertian yang tepat berarti melaksanakan kegiatan yang mengatasi kemampuan indrawi. Hal ini berarti bahwa jiwa intelektual adalah forma manusia dan forma khusus inilah yang membedakan manusia dengan binatang lain.

2. Menurut Scotus dalam diri manusia hanya terdapat satu jiwa meski ada suatu forma dari tubuh. Dalam jiwa yang satu itu terdapt bermacam-macam “formalitas”. Formalitas (jamak) itu meski tidak berbeda (dalam arti dipisahkan) satu dari yang lainnya, mereka berbeda dengan perbedaan formal objektif. karena kegiatan-kegiatan intelektual, instingtif, dan vegetatif benar-benar berbeda secara formal dan objektif, maka terdapat formalitas di dalam jiwa manusia yang satu.

Jiwa adalah bagian manusia. Manusia adalah satu pengada komposit, yang terdiri dari jiwa dan badan. Jiwa menyempurnakan badan hanya jika badan secara tepat diarahkan kepada jiwa dan jiwa yang khusus ini mempunyai keterarahan pada badan yang khusus ini. Akibatnya ialah bhawa jiwa tidaklah diindivuasikan oleh material yang dijiwainya. Sebab, jiwa tertentu dimasukkan kedalam badan dan diciptakann, secara logis sebelum persatuannya dengan badan.

Jiwa tidak memberikan esse simpliciter, tetapi esse vivum dan esse sensitivum, sebab bagi Scotus ada forma dari badan sendiri. Seandainya jiwa memberikan esse simpliciter (sebagaimana dimengerti oleh Aquinas) maka manusia tidak dapat diatakan mati. Kematian melibatkan kehancuran adanya manusia sebagai manusia, yaitu kesatuan jiwa dan badan.

3. Budi manusia tidak seperti kehendaknya, bukanlah suatu daya yang bebas. Budi adalah kemampuan kodrati (potentia naturalis) sedangkan kehendak adalah bebas dan merupakan kemampuan bebas (potential libera). Kehendak dari kodratnya bebas dan Allah tidak dapat menciptakan suatu kehendak bebas yang secara kodrati tidak dapat berdosa.

Scotus menekankan keunggulan kehendak atas pengetahuan. Tentu saja pegetahuan mendahului kehendak karena kehendak tidak dapat mengadakan pilihan atas objek yang tidak diketahuinya. Namun, kehendak dapat memerintah budi, dimana kehendak bekerjasama secara tidak langsung sebagai sebab effisien dengan menggerakkan budi untuk memperhatikan suatu objek atau argumen. Alasan keunggulan kehendak atas budi adalah rusaknya kehendak lebih jelek dari pada rusaknya budi, membenci Allah lebih buruk dari pada tidak tahu atau tidak memikirkan Allah.

4. Jiwa dapat didemonstrasikan di dalam filsafat. jiwa rasional adalah forma khusus manusia, jiwa itu kekal-tak dapat mati, dan jiwa setelah kematian tidak akan tetap berada dalam keterpisahan selamanya dari badan.

Sumber: P. Hardono Hadi ,Pr., Sejarah Filsafat Patristik dan Abad Pertengahan, pro manuscripto Fakultas Teologi Wedabhakti Kentungan, Yogyakarta 1991, 79-82.

NILAI SEBAGAI HAKEKAT MANUSIA

1. Jati diri manusia.
Membahas manusia dalam berbagai disiplin ilmu maupun dimensi kehidupan tidak akan pernah habisnya. Manusia merupakan makluk yang paling istimewa dalam perspektif ciptaan, di mana manusia mempunyai akal budi yang senantiasa berkembang. Melalui akal budinya, manusia selalu memahami dan memaknai hidupnya dan mencari jati dirinya. Manusia selalu berusaha memaknai dirinya sendiri, sesamanya, lingkungan dan bahkan sang Pengadanya. Pemahaman dan pemaknaan ini terkait dengan kesadaran pribadi manusia sebagai makluk berbadan yang menjadi tanda kehadirannya di dunia. Seluruh perjuangan dalam memaknai hidup dan keberadaannya secara bebas atau otonom, hanya dapat dilakukan dalam kerangka relasi dengan substansi yang lain di luar dirinya. Inilah jati diri manusia.
Pribadi atau jati manusia merupakan kesatuan antara jiwa dan badan yang secara dinamis mengekspresikan dirinya dalam hidup di dunia. Konsep kesatuan jiwa-badan mampu menggeser arus dualisme Plato dan para pengikutnya, yang memandang badan sebagai sesuatu yang jahat.

2. Meneropong manusia dalam kerangka nilai kehidupan.
Dalam proses manusia memaknai hidupnya, nilai mempunyai kedudukan yang penting yaitu sebagai dasar dan landasan pelaksanaan hidupnya. bahkan seorang filsuf Indonesia, Driyarkara berpendapat bahwa seluruh hidup manusia sendiri merupakan pelaksanaan nilai-nilai kehidupan. Dalam kamus filsafat, Nilai adalah Harkat, Kualitas suatu hal yang menjadikan suatu hal itu dapat disukai, diinginkan, berguna, atau dapat menjadi objek kepentingan.[1] Dengan kata lain nilai merupakan standar atau tolak ukur.
Dalam proses hidup manusia dalam menemukan dan melaksanakan jati dirinya, khususnya dalam kerangka konsep otonom-korelasi, nilai mempunyai dimensi yang sama. Dalam masing-masing pribadi manusia, ada nilai-nilai individualitas yang berlaku hanya dirinya sebagai pribadi otonom, sekaligus ada nilai-nilai universal terkait dengan dinamika kemanusiaan yang selalu berkorelasi.[2] Kedua dimensi nilai ini menyatu dalam setiap pribadi manusia yang membantunya dalam hidup bersama orang lain. Di satu sisi nilai individu diperjuangkan secara otonom, namun sekaligus melaksanakan nilai universalitas dalam mencapai kebaikan bersama (bonnum commune).
Kemampuan akal budi manusia juga mampu menentukan arah hidup manusia dan mampu melaksanakan nilai sesuai prioritas hidup. Banyak tokoh yang memberikan semacam gradasi nilai. Bahkan sejak jaman Plato pun sudah ada tingkatan atau gradasi nilai yang dibuat oleh manusia, sehingga mampu untuk mencapai tujuan pribadi sekaligus tujuan bersama yang lebih utama. Ada berbagai macam gradasi yang dibuat, namun ada yang cukup penting kita pahami dalam kerangka melihat manusia itu, yaitu nilai istrumental, nilai intrinsik, dan nilai final. Nilai instrumental adalah nilai yang dikenakan pada sesuatu hal yang digunakan untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan.[3] Dengan kata lain nilai ini lebih pada nilai-nilai yang bersifat aturan dalam tatanan hidup manusia untuk hidup bersama demi tercapainya bonum commune. Sedangkan nilai intrinsik adalah nilai yang sudah melekat pada subjek tertentu yang diperjuangkan senantiasa.[4] Dengan kata lain adalah nilai tujuan. Sedangkan nilai final adalah nilai akhir manusia yang dikejar semua orang dan dapat ditempatkan sebagai nilai tertinggi.[5]

3. Nilai: sarana dan tujuan perjuangan hidup manusia
Perjuangan hidup manusia senantiasa diarahkan pada nilai-nilai kehidupan. Ketika orang mampu menghidupi dan memperjuangkan nilai yang lebih tinggi ia semakin mampu mentransendensi diri. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana manusia harus memprioritaskan nilai. Semakin tinggi nilai, semakin orang mencintainya, semakin tinggi pula kosentrasi dan arah hidup manusia dicurahkan. Banyak tokoh mengungkapkan bahwa nilai tertinggi atau final itu adalah kebahagiaan dan berjuang untuk mencapai tingkatan itu. Sokrates misalnya, yakin bahwa kebahagiaan akan tercapai bila orang dengan gigih memperjuangkan kebenaran dan mati demi kebenaran bukanlah meaningless.[6] Aristoteles pun mengungkapkan hidup bahagia jika hidup di bawah bimbingan akal budi. Selain itu, ada pula yang beranggapan bahwa nilai tertinggi adalah nilai religius di mana nilai ini terkait langsung dengan kebaikan yang tak terbatas (Allah).[7] Allahlah nilai-tujuan akhir dan tertinggi, sebagai sumber dari kesempurnaan, Pengada dari segala yang ada.
Memang dalam mencapai tujuan atau nilai tertinggi orang harus mengalami banyak tantangan, entah pengalaman sakit karena kekerasan yang mengakibatkan penderitaan, bahkan kematian. Namun, itu menjadi tidak berarti jika manusia sudah dikuasai cinta dan keyakinan untuk mencapai nilai yang lebih atau tertinggi itu. Sokrates adalah contoh yang tepat. Maka, Nilai tidak hanya menjadi sarana, namun sekaligus tujuan akhir manusia dalam peziarahan hidup di dunia untuk senantiasa memahami dan memaknai hidup atau jati dirinya. Dengan demikian, manusia akan semakin menyadari diri, metransendensikan diri, mengatasi nilai duniawi menuju nilai rohani kemudian mencapai kesempurnaan yang sungguh-sungguh sempurna yaitu Allah.

4. Penutup
Dari semuanya itu, dapat disimpulkan bahwa kesatuan jiwa-badan manusia yang otonom sekaligus berkorelasi berkat akal budi selalu berusaha memahami dan memaknai hidupnya. Nilai kehidupan menjadi dasar dan landasan pelaksanaan proses tersebut, tidak hanya berlaku bagi diri manusia pribadi sebagai sarana namun juga tujuan akhir bagi kehidupan bersama dalam mencapai bonum commune. Jati diri manusia semakin terungkap dalam nilai-nilai kehidupan.

Catatan akhir:
[1] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1996, 713.
[2] CB. Mulyatno, Menguak Misteri Manusia, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta 2009, 101.
[3] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 716.
[4]Bahan kuliah Rm CB. Mulyatno Pr, dalam bentuk slide Power Point.
[5] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 719.
[6] CB. Mulyatno, Menguak Misteri Manusia, 62-63.
[7] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 717.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s