RIDING THE TIGER 3 : NEW ORDER



TIRANI DI BALIK TOPENG DEMOKRASI

Setelah menonton “New Order” bagian terakhir dari trilogi ” Riding the Tiger”, saya semakin memahami makna yang disampaikan. Pada bagian ini, saya tertarik pada adegan terakhir pada film di mana ditampilkan sebuah papan reklame atau iklan yang besar, yang menampilkan gambar rumah mewah dengan segala perlengkapan yang ada, rmobil mewah, dan keluarga bahagia dengan dua orang anak, tepat di atas sebuah toko kecil yang menjual berbagai macam sapu dan sulak. Di sini saya menangkap sebuah simbolisasi untuk menyimpulkan keseluruhan isi film yaitu adanya ironi. Saya memaknai gambar itu sebagai sebuah representasi pemerintahan Orde Baru yang penuh dengan ironi, yang ditampilkan dalam seluruh film yang ketiga ini. Saya dapat melihat bahwa pemerintahan itu nampak baik dan sangat ideal, menampilkan pemerintahan Demokrasi yang berjalan dengan baik dan dapat diterima oleh seluruh rakyat, bahkan terkesan banyak orang mencintai pola pemerintahan Soeharto yang pro rakyat (fakta ketika ia mengadakan kunjungan ke daerah, ia begitu dekat dengan rakyat kecil).

Pemerintahan Soeharto menamai pemerintahannya sebagai Orde Baru yang lebih baik menurutnya dari pada pemerintahan Orde Lama. Saya menangkap di balik pemerintahanDemokrasi yang diusung orde Baru itu justru tersirat secara jelas sebuah pemerintahan Tirani, dimana Soeharto menggunakan kekuatannya menguasai tentara untuk mengontrol seluruh lapisan masyarakat, bahkan hingga pada taraf yang rendah. Kekejaman dan tirani Soeharto sebenarnya sudah nampak ketika pecah Gerakan 30 September. Komunis dianggap melakukan kudeta terhadap negara sehingga melahirkan kebencian rakyat terhadap PKI. Maka Soeharto melalui tentara menggandeng golongan islam mengadakan “pembersihan” yang memakan korban jutaan orang di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Bahkan, hanya pembantaian orang Yahudi oleh Hitler yang mampu menyamai rekor ini. Bukti lain selama pemerintahanya mengulirkan semangat “ABRI manunggal” sebagai sarana untuk mengontrol rakyat. Menamakan dirinya Demokrasi, justru Orde Baru membungkam kebebasan untuk menulis dan berbicara. Setiap ada aksi demonstrasi sebagai contoh sebuah negara demokrasi, justru para tokoh demonstran ditangkap. Tidak ada celah sama sekali untuk melawan pemerintahan bahkan utuk mengkritik saja tidak mungkin. Inilah ironi Demokrasi ala orde Baru.
Selain itu, sebagai pemerintahan demokrasi, semestinya Orde Baru sungguh pro rakyat, tapi ironinya mereka hanya pro pengusaha. Mereka sungguh memberikan previlese yang berbeda dengan rakyat biasa. Bahkan seringkali pemerintah membiarkan para pengusaha memberi upah buruh di bawah standar. Kehidupan para buruh begitu memprihatinkan, bahkan mereka tidak pernah (atau tidak berani?) bermimpi bahwa rakyat Indonesia akan mengalami kehidupan seperti yang dialami oleh rakyat dinegara-negara maju. Mereka hanya berani berfilosofi “harta di dunia tidak dibawa mati”. Benar-benar sebuah tirani!

Selama kurang lebih 32 tahun Orde Baru berkuasa, tak ada gerakan-gerakan yang mengacaukan pemerintahan dan terkesan Soeharto berhasil mengkondisikan negara yang kondusif dengan landasan Demokrasi Pancasila. Namun ketika, pemerintahannya jatuh dan bergulirnya era reformasi, kondisi yang selama ini kondusif berubah mencadi semacam bola api yang meledak. Inilah bukti keamanan dan negara yang kondusif hanya “dikondisikan” secara paksa bukan suasana murni dalam kehidupan rakyat. Rakyat hidup dalam bayang-bayang tirani orde Baru di negeri Demokrasi. Pemerintah mencoba menampilkan idealitas yang ingin dicapai sebagai negara yang makmur (digambarkan dengan papan reklame keluarga yang bahagia dengan hidup mewah tercukupi) namun tak pernah peduli dengan nasib orang kecil yang tertindas oleh “penjajah” perekonomian yang amat kapitalis (diwakili dengan simbol toko sapu dan sulak). Sebuah ironi yang nyata!

Jika saya diberi kesempatan untuk melanjutkan film “Riding the Tiger part IV” saya akan memberi judul” Riding the Tiger: Reform or New Tyranny?”. Alasannya, meski telah sebelas tahun Indonesia memasuki masa reformasi, nampaknya tidak ada perubahan yang signifikan, khususnya akhir-akhir ini. Pemerintah memperlihatkan kekuasaannya secara terselubung untuk melanggengkan kekuasaan, mencoba mengalahkan lawan-lawannya dengan berbagai cara dibantu oleh para kroninya, dimana peran uang sebagai “tuhan” yang mampu membuat segalanya terjadi. Peristiwa Cicak vs Buaya menjadi gambaran konkret. Nampaknya, impian untuk menjadi negara yang murni Demokrasi non Tirani masih jauh dari kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s