MUSA MEMOHON ALLAH BERBELASKASIH

Sebuah Analisis dan Pembahasan Teks Kel 32:15-24.30-34

1. Pengantar
Kualitas perkembangan suatu bangsa sedikit banyak dipengaruhi oleh sosok pemimpin. Pemimpin yang baik dan berdedikasi penuh untuk bangsa yang dipimpinnya, akan mampu mengarahkan bangsanya menjadi lebih baik dan taat. Kesediaan untuk berkorban demi bangsanya menjadi syarat mutlak untuk menjadi seorang pemimpin.

Pada jaman sekarang sulit untuk menemukan pemimpin sekaliber Musa, yang berani berkorban demi rakyat yang dipimpinnya, dan mau bertanggungjawab demi masa depan bangsanya. Namun, pada sisi lain kerahiman Allahlah yang berperan. Kejatuhan dosa yang amat parah, bahkan melanggar perjanjian yang baru saja diikat, memang layak mendapat ganjaran yang setimpal, yaitu hukuman penghancuran. Namun Allah berbelas kasih dan tetap setia meski umatnya tidak setia, karena ia tidak dapat menyangkal diriNya (bdk. II Tim 2:13). Setelah membaca perikop ini, penulis mencoba merumuskan permasalahan untuk memperdalam pemahaman mengenai perikop; bagaimana peran Musa dalam kisah ini? Dan bagaimana belaskasih YHWH berperan terhadap bangsa ini selanjutnya?

2. Struktur Teks
Dalam paper ini, penulis mencoba membagi perikop dalam empat bagian besar atas dasar peralihan tindakan Musa. Pembagiannya perikop ini adalah sebagai berikut:

Kel 32: 15-18 Perjalanan Musa dari Sinai Menemui Israel
Kel 32: 19-20 Penghancuran Berhala: Ketegasan Musa Menjaga Perjanjian
Kel 32: 21-24 Teguran Musa pada Harun
Kel 32: 30-34 Kerendahan Hati Musa demi Pengampunan Bangsa

3. Mengenai Perikop Kel 32: 15-24;30-34
Perikop ini diambil dari Bacaan Misa Harian Senin Pekan biasa XVII Tahun I. Perikop ini sebenarnya merupakan cerita panjang dari Kel 32:1-35 yang mengisahkan ketidaksetiaan bangsa Israel kepada YHWH dengan membuat Anak Lembu Emas sebagai penggantiNya. Kisah ini merupakan salah satu perikop terkenal dari Perjanjian Lama, sehingga sebagian besar orang Kristen pernah mendengar atau membacanya. Dalam perikop ini ada bagian yang dihilangkan dan tidak dibacakan dalam misa. Ada dua alasan yang lebih bersifat pastoral mengapa ayat 25-29 dihilangkan. Pertama, bacaan terlalu panjang jika dibacakan, maka perlu dihilangkan beberapa ayat yang tidak akan mengganggu alur cerita. Hal ini dapat dimaklumi karena ayat 25-29 dianggap oleh para ahli sebagai sisipan kemudian, sehingga tidak akan mengganggu jalannya cerita. Kedua, perlu memperhatikan umat sebagai pendengar agar unsur-unsur kekejian atau kekejaman yang ada dalam perikop tidak menimbulkan salah paham atau adanya penafsiran yang keliru.

Perikop dibuka pada ayat 15, di mana Musa turun dari Gunung Sinai, setelah mendapat dekalog dan mendapat informasi dari YHWH sendiri mengenai ketidaksetiaan Israel terhadap perjanjian yang baru saja diikat, dan diakhiri pada ayat 34, di mana YHWH memerintahkan Musa untuk tetap menuntun bangsa menuju tanah terjanji sesuai dengan janjiNya, namun akan datang untuk menuntut balas atas pelanggaran yang mereka buat.

Menurut beberapa sumber dan para ahli, kisah ini mempunyai kaitan dengan kisah Anak Lembu Emas yang dibuat oleh Yerobeam I (bdk. 1 Raj 12:25ss). Pada waktu itu, raja Yerobeam I, kerajaan Israel (Utara), membuat Anak Lembu Emas seperti itu dan menempatkannya di kota Dan serta di Betel (1Raj 12:26-32) sebagai suatu gerakan anti-kenisah yang didirikan Salomo di Yerusalem. Ia ingin memutuskan ikatan rakyatnya dengan ibadat di Yerusalem, dengan harapan dengan terputusnya ikatan itu, rakyatnya loyal kepadanya dan kepada negara baru yang dibentuknya.

Kedua Kitab Raja-raja yang dikarang di kota Yerusalem, menunjukkan pembuatan arca-arca anak lembu emas yang didirikan raja Yerobeam itu, sebagai salah satu dosa utama suku-suku Israel yang menyebabkan runtuhya kerajaan Selatan di jaman kemudian (lih. 1Raj 15:26,34 dst. ; 2 Raj 17:16 dst.). Penyusun tradisi Elohista di kerajaan Yerobeam, juga mengutuk praktek penyembahan semacam itu, karena menurut mereka bertentangan dengan tradisi dengan tradisi Musa yang asli. Maka dalam tradisi Elohista tersusunlah cerita mengenai Musa sendiri, atas perintah Allah memecahkan loh-loh batu itu, mempermalukan para imam yang tidak setia dan dengan keras menghukum umatNya. Pada perkembangan peredaksian Perjanjian Lama, kisah ini dipertahankan dan diolah dengan beberapa sisipan, supaya dalam Taurat terdapat cerita mengenai penyembahan berhala yang sudah terjadi jauh sebelum Yerobeam yaitu sewaktu Israel masih mengembara di padang gurun di bawah pimpinan Musa. Kisah ini menjadi pengingat bagi semua Israel bahwa leluhur mereka telah jatuh pada ketidaksetiaan yang memalukan, dan hampir saja dimusnahkan oleh YHWH, namun berkat belaskasihan YHWH dan doa permohonan Musalah mereka boleh menikmati Tanah Perjanjian.

4. Ulasan teks
Perjalanan Musa Menemui Bangsa Israel (ayat 15-18)
Pada kisah sebelumnya, diceritakan bahwa Israel telah melanggar Perjanjian yang mereka ikat dengan YHWH, dengan membuat berhala berbentuk patung Anak Lembu Emas (ayat 1-6). YHWH mengetahui perbuatan mereka dan ingin memusnahkan bangsa Israel. Namun Musa tampil dan berusaha mengubah pikiran YHWH (ayat 7-14). Setelah Musa berhasil melunakkan hati YHWH sehingga membatalkan niat pemusnahannya, Musa turun dari Gunung dengan kedua loh batu di tangannya (ayat 15). kata-kata “…loh-loh yang bertulis pada kedua sisinya; bertulis sebelah-menyebelah” pada ayat 15, agak berbeda dengan kebiasaan, dimana biasanya loh-loh batu hanya ditulis di satu sisi saja. Di sini tersirat tradisi E.

Dua loh batu adalah buatan YHWH dan tulisannya adalah karya YHWH sendiri dengan cara ditukikkan pada kedua loh itu (ayat 16). Mengenai anggapan ini tentu melebihi kebiasaan Timur Dekat dalam memahami penulisan ilahi, di mana seorang dewa tidak pernah menghasilkan tulisan atau dokumen secara fisik. Jika YHWH ditempatkan sebagai penulis, ini mau menekankan betapa berartinya dan betapa tingginya wibawa tulisan ini. Tradisi E menekankan peran Allah sebagai pembuat hukum dengan tanganNya sendiri, sedangkan tradisi J dalam Kel 34:28 Musalah penulisnya.

Dalam perjalanannya, Musa bertemu dengan Yosua, dan ada dialog singkat (ayat 17-18). Mengenai kemunculan Yosua, sebenarnya sudah dipersiapkan dalam Kel 24:13. Ia menunggu pada titik tertentu antara gunung Sinai dan tempat bangsa Israel berkemah. Kata Yosua mendengar pada ayat 17, mengandaikan tempat antara mereka berdiri dengan perkemahan Israel memang memang masih jauh, tetapi dapat didengar. Ini akan dipertegas pada ayat 19 dengan kata melihat.

Penghancuran Berhala: Ketegasan Musa Menjaga Perjanjian (ayat 19-20)
Bagian ini merupakan puncak atau klimaks dari reaksi Musa atas tindakan Israel. Saat Musa mendekat, ia melihat apa yang dibuat Israel yaitu anak lembu dan orang yang menari-nari, dan hal ini membangkitkan amarahnya (ayat 19a). Kata menari-nari, bukanlah sekedar bersukaria namun lebih mengandung nuansa negatif, mengarah pada aktivitas seksual. Musa tidak menduga bahwa apa yang ia dengar dari YHWH benar adanya. Ada dua tindakan yang dibuat Musa sebagai bentuk kemarahannya yaitu menghancurkan dua loh batu yang berisi Perintah YHWH (ayat 19b) dan menghancurkan patung anak lembu emas (ayat 20).

Tindakan pertama dapat dipahami sebagai hancurnya Perjanjian antara YHWH dan Israel, di mana Israel telah melanggar perjanjian khususnya pada perintah pertama untuk tidak menyembah allah lain dalam bentuk patung atau gambar apapun (bdk. Kel 20:3-4). Penghancuran kedua loh batu yang berisi “tulisan YHWH” sendiri, menandakan putusnya perjanjian bukanlah dari pihak YHWH, tetapi dari pihak manusia.

Sedangkan tindakan kedua yaitu membakar patung lembu emas, menggiling, dan menaburkannya ke dalam air dan meminta mereka meminumnya pada ayat 20, agak sulit dipahami. Namun, tindakan penghancuran dengan cara ini ternyata sama dengan cara yang digunakan oleh Anat istri Baal untuk menghancurkan Mot, dewa kematian, menurut sastra Kanaan dan dunia Timur Dekat Kuno. Dalam konteks kisah ini, tindakan penghancuran seperti itu dapat dipahami sebagai penghancuran total benda berhala patung tuangan tanpa sisa. Musa mau menunjukkan bahwa iman akan Allah yang monoteisme dalam diri YHWH, menuntut penghancuran alah-allah lain.

Teguran Musa kepada Harun (ayat 21-24)
Setelah melaksanakan tindakan penghancuran tanpa disertai sepatah katapun, Musa akhirnya berbicara dengan Harun dalam bentuk pertanyaan yang bernada menuduh sekaligus menegur (ayat 21). Hal ini wajar karena Harun dianggap bertanggungjawab atas tindakan Israel karena ia adalah pemimpin Israel setelah Musa dan penyambung lidah Musa (bdk. Kel 4:16). Selain itu, Musa juga telah menyerahkan “kekuasaannya” kepada Harun dan bagi mereka yang mempunyai perkara hendaknya datang kepadanya selama Musa pergi ke atas Gunung Sinai (bdk. Kel 24:14).

Pada bagian ini, Musa mempertanyakan sikap Harun yang “tunduk” pada keinginan Israel, padahal Harun adalah seorang imam yang telah dipilih YHWH. Sebagai seorang imam Harun seharusnya menjadi orang pertama yang menentang keinginan Israel yang jahat dan salah di mata YHWH itu. Namun menanggapi tuduhan dan teguran Musa, Harun menjawab secara cerdik bahkan agak licik.

22 Tetapi jawab Harun: “Janganlah bangkit amarah tuanku; engkau sendiri tahu, bahwa bangsa ini jahat semata-mata. 23 Mereka berkata kepadaku: Buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir — kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia. 24 Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini.

Jawaban Harun menandakan ia seorang yang diplomatis atau bahkan agak licik dalam usaha menghindari tanggungjawab. Jawaban pada Ayat 22-24 sebenarnya adalah pengulangan dari ayat 1b-4, dengan sedikit modifikasi oleh Harun untuk membenarkan dirinya. Ia berusaha menenangkan amarah Musa dengan memberi sebuah penilaian yang kemudian menjadi alasan, yaitu bahwa bangsa Israel memang sudah jahat sejak awal mula (ayat 22). Selanjutnya, ia mencoba menceritakan kisah awal terjadinya tindakan berhala atau kemurtadan berdasarkan ayat 1b dengan maksud mau menunjukkan bahwa kemurtadan itu datang dari inisiatif Israel sendiri dan ia terpaksa menuruti kemauan mereka (ayat 23). Sekali lagi, ia berusaha “mencuci tangan” dan meletakkan beban dosa kesalahan pada Israel. Akhirnya Harun sungguh mengubah cerita sesungguhnya untuk menghilangkan perannya pada ayat 3-4, dengan mengatakan bahwa setelah menerima emas yang dikumpulkan oleh bangsa Israel, Harun hanya melemparkannya ke dalam api dan keluarlah anak lembu itu (ayat 24). Dalam kitab kesusasteraan Kanaan, benda-benda keagamaan itu menemukan bentuknya dari dirinya sendiri; misalnya, Istana Baal terbentuk setelah api dibiarkan membakar emas dan perak selama 6 hari. Dengan demikian, Harun mau mengatakan bahwa ia tidak bisa dipersalahkan atau dianggap bertanggungjawab oleh Musa atas peristiwa itu. Tragedi kejatuhan manusia pada Kej 3 terjadi kembali, di mana Adam dan Hawa saling melemparkan tanggungjawab atas dosa mereka seolah-olah mereka tidak berdosa dan “terpaksa” melakukannya atas bujukan ular (lih. Kej 3:1-13).

Ayat 20-24 menampilkan hal yang menarik mengenai sosok seorang pemimpin. Pada bagian sebelumnya, Musa digambarkan sebagai seorang pemimpin yang berani menghadap YHWH dan membela bangsa Israel yang jelas-jelas telah melanggar Perjanjian (bdk. Ayat 11-13). Sebaliknya, sosok Harun mencerminkan sosok seorang pemimpin yang lemah dan tidak tegas melawan kemauan jahat bangsa Israel (bdk. ayat 1; 23), dan saat kesalahan telah terjadi membebankan kesalahan pada umat yang dipimpinnya (ayat 22) dan secara cerdik dan licik berusaha melepaskan diri dari tanggung jawab (ayat 24).

Ketulusan Hati Musa demi Pengampunan Bangsa (ayat 30-34)
Kisah berlanjut pada bagian yang amat menarik dan tak terduga. Setelah mendapat informasi dan penjelasan dari Harun yang tidak sepenuhnya jujur itu, dan melihat bangsa itu seperti kuda yang terlepas dari kandang (ayat 25), Musa kemudian mengajukan perintah bersifat ultimatum; memilih YHWH atau Anak Lembu Emas. Siapa yang berpihak kepada YHWH untuk datang kepadanya (ayat 26). Ternyata, hanya bani Lewi yang datang kepada Musa. Maka Musa meminta bani Lewi untuk melakukan “pembersihan” yang tidak mau datang kepada Musa atau yang tidak memihak YHWH.

Setelah meminta bani Lewi untuk melakukan “pembersihan” yang menewaskan 3000 orang, serta memerintahkan mereka untuk membaktikan kepada YHWH demi mendapat berkat (ayat 27-29), Musa merasa itu belum cukup untuk menebus kesalahan yang telah dibuat oleh bangsa Israel karena dosa itu terlampau besar. Pada ayat 30 Musa berkata kepada Israel,” Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu”.

Di sinilah keutamaan Musa sebagai seorang pemimpin sejati muncul kembali. Meskipun Musa menyadari bahwa dosa bangsa Israel terlalu besar karena melanggar perjanjian dan sempat membangkitkan murkanya, namun ia begitu mencintai bangsa Israel, sehingga ia memohon kepada YHWH untuk mengampuni dosa mereka (ayat 31). Bahkan, dengan penuh keberanian ia menuntut YHWH untuk memberi pengampunan, dan sebagai gantinya, ia rela mempertaruhkan nyawanya dan namanya dihapus dari “Kitab Tuhan” asalkan bangsa Israel diampuni (ayat 32). Konsep mengenai Kitab Tuhan seperti ini merupakan hal yang umum di kalangan masyarakat Timur Dekat Kuno, khususnya dalam buku wajib militer. dalam bagian ini, orang Israel memaknai dirinya sebagai Tentara YHWH. Bila nama seseorang itu dihapus dari daftar kitab (lebih tepatnya loh batu), tidak boleh memiliki tanah dan ditempatkan di antara orang-orang mati, artinya dikucilkan dari komunitas.

Selanjutnya, Musa menerima tanggapan dari YHWH atas permohonannya itu. Kali ini YHWH tidak bisa lagi dibujuk. YHWH menolak menerima permohonan Musa dan menyatakan bahwa orang-orang yang bersalah sajalah yang akan dihapus dari daftar umat pilihan YHWH. Hal ini bukan berarti sikap dan tindakan YHWH bertolakbelakang dengan sikap penyesalan dan pengampunan yang Ia tunjukkan pada Musa sebelumnya (lih. Kel 32:14). Pada titik ini hal yang pokok adalah, meskipun bangsa itu akan tetap dibiarkan hidup dan YHWH akan tetap memegang janjinya kepada leluhur mereka mengenai tanah (ayat 34), namun mereka tidak lagi menjadi komunitas bangsa yang terpilih. Artinya, YHWH tetap mengampuni mereka namun tidak penuh. Keputusan YHWH ini selanjutnya akan berdampak pada hilangnya beberapa perhatian dan perlindungan Ilahi atas bangsa ini, di mana YHWH tidak akan pergi bersama mereka sebagai Allah mereka (bdk. 33:2-3) dan akan mengunjungi mereka untuk melaksanakan pengadilan atas dosa-dosa mereka (bdk. 20:5).

Pada bagian ini yaitu ayat 30-34, memang menggambarkan secara jelas tindakan YHWH terhadap umatNya Israel, namun bagian ini tidak menyatakan akhir dari kisah panjang mengenai “pengkhianatan” Israel terhadap perjanjian yang baru saja diikatnya. Bagian ini membutuhkan penafsiran yang lebih dalam dan tidak sekedar kisah begitu saja. Kita harus menggunakan perhatian kita yang lebih dan berbeda dalam menarik kesimpulan teologis dari bagian ini. Misalnya, kita tidak bisa menggunakan ayat 33 sebagai sebuah kesimpulan bahwa tidak ada pengampunan bagi para pendosa. Tetap ada pengampunan meski juga melahirkan kosekuensi.

5. Refleksi
Perikop ini berusaha menampilkan peran penting Musa sebagai pemimpin bangsa Israel sekaligus perantara antara Israel dan YHWH. Sebagai pemimpin, Musa merasa bertanggungjawab atas masa depan bangsa Israel meski perbuatan mereka membangkitkan amarahnya. Secara manusiawi, amarahnya bangkit karena ketegaran bangsa itu, dan mudah sekali tergoda untuk menyimpang, ketika mengalami kekosongan pemimpin (faktanya masih ada Harun, Imam pilihan YHWH yang tidak tegas). Ia marah karena, bangsa yang dipilihnya sungguh keterlaluan. Perjanjian telah diikat oleh YHWH dengan Musa sebagai wakil Israel, justru diputuskan secara sepihak akibat berhala itu. Namun, ia tetap mencintai bangsanya sendiri. Ia dengan tangannya sendiri, menghancurkan benda berhala sumber permasalahan, sebagai tanda penolakan tegas Musa atas ketidaksetiaan Musa. Dengan meminta mereka meminum air yang dicampur hasil gilingan patung, Musa ingin mereka juga berbalik dan menyesal atas perbuatan mereka.

Selanjutnya, ketika berhadapan dengan Harun, Musa mencoba mencari alasan mendasar atau akar permasalahan agar masalah menjadi jelas. Namun, sikapnya mesti berhadapan dengan patner pemimpin yang tidak tegas dan cenderung- meminjam istilah Pilatus- “cuci tangan” dari permasalahan.

Musa, sebagai perantara memohon pengampunan kepada YHWH atas dosa kemurtadan Israel, bahkan berani menanggung resiko dan mengajukan diri sebagai “korban penebusan dosa”. Dalam pandangannya, biarlah satu orang mati untuk keselamatan seluruh bangsa (bdk. peryataan Imam Besar Kayafas dalam Yoh 11:50;18:14). Pada bagian ini, peran Musa sebagai pemimpin amat mengagumkan. Gambaran yang muncul dari bagian ini adalah bahwa Musa bertanggungjawab dalam menentukan masa depan dan tidak diam saja atau pasif. Bagian ini mau menunjukkan sangat pentingnya perkataan dan tindakan Musa dalam menentukan masa depan bangsa Israel. Sebenarnya, bisa saja ia menyerahkan sepenuhnya masa depan Israel di tangan Allah YHWH. Namun ini bukanlah yang dikehendaki Allah. Musa pun berani menanggung resiko sebagai pemimpin dengan bertanggungjawab atas dosa mereka, dan mohon pengampunan kepada Allah. Posisi Musa sebagai pemimpin sekaligus perantara antara YHWH dan Israel bukanlah posisi yang nyaman, tapi untuk itulah ia dipanggil. Sosok kepemimpinan seperti inilah yang patut ditiru oleh siapa saja yang ingin, sedang atau akan menjadi pemimpin. Keutamaan Musa menampilkan tanggungjawab besar terhadap nasib bangsanya.

Di sini lain, bagian ini juga menunjukkan sebuah gambaran YHWH sebagai Allah yang mengagumkan, Allah yang membuka diri untuk berdialog dengan para pemimpin yang telah dipilihNya, dan memperhatikan masukan dari mereka dengan kesungguhan. Ialah Allah yang bekerja pada level kemungkinan atau tidak kaku, tetapi bukan Allah yang tidak tegas atau bimbang, penuh dengan ketidakpastian. Justru Ia adalah Allah yang memilih untuk tidak bertindak sendiri dalam masalah ini demi integritas relasi yang telah dibuat. Ia memilih berbagi dalam proses pengambilan keputusan dengan rekan kerjanya (manusia), demi menghormati relasinya dengan Musa sehingga keputusan akhir yang diambil adalah keputusan terbaik di antara banyak kemungkinan. Dalam segala kemungkinan, belaskasih Allah yang paling utama, yang dengan suka hati membuka hati bagi mereka yang mau bertobat dan memohon pengampunan kepadaNya.

DAFTAR PUSTAKA

Bergant , CSA, D. dan Robert J. Karris, OFM. (eds.),
2002 Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Fretheim, Terence E.,
1991 Exodus Interpretation A bible Commentary for Teaching and Preaching, John Knox Press, Louisville.

Indra Sanjaya, V.,
2001 Kitab Taurat, ad vasum privatum tantum diktat Pentateukh, Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta.

Jehadut, Alfons,
2010 “Kemurtadan Israel dan Doa Permohonan Musa” dalam Pendalaman Kitab Suci Vol.25, No.5, September-Oktober 2010, Yayasan Lembaga Biblika Indonesia, Jakarta.

Leks, Stefan,
1978 Menuju Tanah Terjanji, Penerbit Nusa Indah, Ende.

Von Rad, Gerhard,
1973 Musa, BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s