ARAT SABULUNGAN: KEARIFAN LOKAL MENJAGA KESELAMATAN KOSMOS

Analisa Keselamatan dalam Suku Mentawai dengan Kacamata Soteriologi Islam dan Katolik

 

Pengantar

            Masalah lingkungan hidup menjadi tema utama dan penting yang sifatnya universal atau global. Keprihatinan akan kekacauan alam semesta akibat ulah manusia yang merusak menjadi tema-tema utama dalam setiap pertemuan resmi, baik, internal, regional maupun internasional. Pemanasan global, bencana alam, perubahan iklim adalah tema-tema pokok sekaligus mendesak. Isu-isu global yang muncul dewasa ini menunjukkan realita bahwa perkembangan tranportasi, informasi, komunikasi, produksi dan distribusi berperan dalam perusakan lingkungan hidup. Keterkaitan tersebut melahirkan berbagai isu global mengenai lingkungan hidup, energi, pangan, kependudukan, HAM, interdependensi/dependensi ekonomi, pembangunan, dan lain-lain. Situasi ini memaksa orang-orang diberbagai belahan di dunia untuk memikirkan kembali bagaimana hubungan manusia dengan alam semesta. Sikap eksplotatif manusia harus dihentikan.

Situasi yang sama terjadi di Indonesia. Gerakan-gerakan untuk mejaga alam semesta mulai digalakkan. Orang-orang mulai menyadari bahwa para leluhur mempunyai kearifan lokal yang terbukti mampu menjaga keharmonisan. Salah satu kearifan lokal yang cukup kuat adalah kearifan lokal suku Mentawai. Apa kearifan lokal Mentawai itu?

 

Kearifan Ekologi Masyarakat suku Mentawai

Selayang Pandang Suku Mentawai[1]

Suku Mentawai tinggal di kepulauan Mentawai yang terletak sekitar 100 km di sebelah barat pantai Sumatera, yang terdiri dari 40 pulau besar dan kecil. Ada empat pulau besar yang didiami manusia yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Beberapa hipotesis diajukan untuk menjelaskan asal-usul genealogi suku Mentawai. Neumann misalnya menggolongkan suku Mentawai dalam golongan Melayu Polinesia. Bangsa Polinesia sejak dahulu mendiami pulau Sumatera. Namun kedatangan bangsa Melayu menyebabkan mereka terusir dan menyingkir ke pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Budaya Ekologi Masyarakat suku Mentawai

Mayoritas orang-orang suku Mentawai memeluk agama Katolik, dan sebagian beragama Protestan, dan  Islam. Namun demikian, sebagaian penduduk Mentawai masih tetap memegang teguh religinya yang asli, yaitu Arat Sabulungan. Arat berarti adat, Sa berarti seikat dan bulungan berarti daun. Mereka menyebutnya Arat Sabulungan karena dalam setiap acara ritualnya mereka selalu menggunakan daun-daun yang dipercaya dapat menghubungkan manusia dengan Sang Maha Kuasa atau disebut sebagai Ulau Manua (Tuhan). Pada dasarnya Arat Sabulungan mengajarkan keseimbangan antara alam dan manusia. Kepercayaan itu mengajarkan bahwa manusia harus memperlakukan alam, tumbuh-tumbuhan, air, dan binatang seperti dirinya.[2] Menurut Arat Sabulungan daun atau lebih luasnya lagi pohon atau hutan merupakan tempat bersemayam bagi para dewa-dewa yang harus dihormati. Secara khusus, penguasa Hutan menurut kepercayaan suku Mentawai adalah Taikaleleu. Dialah yang memberikan hasil-hasil hutan bagi kelangsungan hidup mereka.

Hidup suku Mentawai menyatu dengan Hutan. Merusak Alam dan berburu secara liar diyakini dapat mendatangkan bencana bagi kehidupan suku Mentawai misalnya bencana alam, wabah penyakit. Maka setiap adanya disharmoni ini perlu diadakan semacam ritus pemulihan.

 

Status Questionis

Setelah melihat pentingnya kehidupan hutan bagi kehidupan suku Mentawai, ada sepenggal status questionis yang akan membantu memahami lebih dalam kaitan Keseimbangan ekologi yang direpresentasikan oleh hutan dan bagi keselamatan hidup suku Mentawai: Apakah Gagasan Arat Sabulungan dalam menjaga hutan mampu menjamin keselamatan mereka (entah kolektif mau individual)? Apakah Gagasan mereka mampu menyumbangkan sesuatu demi pengembangan cara hidup yang pro-kosmos (ekologis) sekaligus memberi inside terkaitan dengan soteriologi atau keselamatan hidup manusia? Bagaimana Arat Sabulungan berhadapan dengan agama-agama “resmi” (versi pemerintah), dalam hal ini agama Islam dan Katolik sebagai pembanding?

RitusPemulihan Arat Sabulungan

Van Gennep berpendapat bahwa ritual-ritual dalam kehidupan suatu kelompok manusia menyajikan tatanan yang sama yaitu Metanoia, Katarsis, dan Paripatia. Metanoia berarti suatu keadaan disharmoni, situasi tidak terdamaikan antara diri manusia dan Allahnya, dirinya sendiri, sesamanya, dan alam sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan ketidaknyamanan, ketidaktentraman, dan ketidakbahagiaan bagi siapa saja. Katarsis adalah suatu pengenangan kembali akan sesuatu yang telah terjadi di masa lalu suatu masa harmoni, keselarasan kehidupan dan seimbang antara manusia, alam dan sang ilahi. Peristiwa pengenangan itu sebentuk doa-doa yang didaraskan, tari-tarian sakral atau legenda yang diceritakan kembali. Sedangkan Paripatia adalah bagian pemulihan dan pembebasan serta sukacita. Bentuknya berupa ungkapan syukur bersama karena (akan) terciptanya suasana harmoni kembali. Ungkapan itu berupa makan bersama, sukacita pesta dan sebagainya.

Maka ritus Punen ini dapat dianalisis menggunakan tatanan menurut Van Gennep ini:

  1. 1.      Metanoia (Penyesalan/disharmoni)

Pada tahap pertama ini, orang-orang suku Mentawai mulai menyadari bahwa bencana yang mereka alami misalnya wabah penyakit merupakan hukuman dan murka dari roh penguasa hutan yaitu Taikaleleu. Taikaleleu murka karena mereka mengeksploitasi hutan tanpa persetujuan rimata (kepala suku) dan sikerei (dukun) atau tanpa upacara kurban  lebih dahulu.

  1. 2.      Katarsis (Pengenangan suasana harmoni)

Pada tahap ini upacara kurban atau Punen itu dimulai. Sefano Coronese dalam bukunya Kebudayaan Suku Mentawai, menguraikan secara singkat namun cukup detail berkaitan dengan pelaksanaan Punen ini. Ada banyak jenis punen. Namun berkaitan dengan wabah penyakit, yang digunakan adalah ritual Punen Sorrobut Laggai. Ritual Punen dipimpin oleh Rimata (kepala suku atau Uma) yang bertanggung jawab atas semua kegiatan bersama yang dilaksanakan dalam punen. Dalam pelaksanaannya Rimata dibantu oleh Si Kerei (dukun). Rimata juga yang menentukan rerumputan atau daun-daun gaib yang akan digunakan selama ritual Punen ini.

Punen dimulai dengan pencucian rambut semua orang yang hadir sebagai tanda penyucian diri agar layak untuk ikut dalam ritual punen ini. Selanjutnya semua orang berdandan dengan hiasan ritual punen, salah satunya membuat rajah atau tato dibeberapa bagian tubuh. Setelah semuanya siap, diadakankan upara penyelidikan usus. Upacara ini dilakukan dengan penyembelihan babi dan ayam. Para petugas penyembelih memeriksa usus babi atau ayam yang disembelih itu. Jika usus binatang ini busuk, berarti roh Taikaleleu belum berkenan dan masih murka. Babi dan ayam berikutnya disembelih dan diperiksa dengan cara yang sama. Upacara ini berakhir bila usus binatang yang disembelih kondisinya segar-baik atau tidak busuk.

Pada malam harinya, punen dilanjutkan dengan dengan tari-tarian. Dua orang pria menari untuk mendapatkan rahmat dan persetujuan roh-roh punen, dengan meniru cara gerak burung-burung dan binatang lainnya.

selama pelaksanaan ritual punen ini ada beberapa pantangan yang harus tak boleh dilanggar, karena punen itu merupakan waktu atau masa suci. Pantangan itu misalnya, orang tidak boleh bekerja, atau melakukan hubungan seksual.

  1. 3.      Paripatia (Penciptaan kembali situasi harmoni)

Setelah ritual punen selesai dilaksanakan, ritual Punen diakhiri makan bersama dan selanjutnya diadakan dengan upacara perburuan bersama untuk menangkap penyu, rusa, dan monyet serta pemancingan bersama di sungai. Hasil dari memancing dan berburu itu hasilnya dibawa pulang sebagai persembahan, dagingnya dipotong-potong dan dibagikan kepada semua orang yang hadir.

Paham Keselamatan Agama Islam

Lantas bagaimana Kearifan lokal Mentawai Arat Sibulungan dalam menjaga keseimbangan ekologi ini mampu berkolaborasi dengan agama-agama besar dunia? Penulis mencoba menggunakan agama Islam sebagai pisau analisis yang akan mengupas lebih dalam kaitan Arat Sibulungan dengan soteriologi, dan agama Katolik sebagai pembanding akhir.

Sebelum berbicara mengenai paham Islam terhadap lingkungan hidup (ekologi), penulis akan menguraikan dimensi beriman agama Islam dalam mencapai keselamatan. Menurut paham Islam, keselamatan bagi orang muslim adalah beriman, berserah diri dan mengikuti perintah Allah, teladan para Nabi serta mentaati hukum (syariah).[3] Istilah Islam sudah menunjukkan apa itu keselamatan bagi orang Muslim. Islam dimaknai sebagai penyerahan diri manusia secara total kepada Allah. Islam berasal dari akar kata  Arab, slm atau salama yang berarti memasuki kedamaian.

Islam mengajarkan keselamatan tercapai melalui iman, yaitu iman kepada Allah yang Esa (tauhid). Iman itu mereka nyatakan melalui syahadat yang sederhana dan singkat ”La ila illa Allah, Muhammad Rasul-ullah” (Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah). Syahadat singkat itu dijabarkan menjadi Rukun (tiang) Islam dalam enam pokok[4]: Percaya akan Allah yang Esa (Tauhid), percaya akan malaikat-malaikat, percaya akan Kitab-kitab suci, percaya akan Rasul-rasul Allah (para Nabi), percaya  akan Kebangkitan dan Hari Penghakiman (Akhirat), dan Percaya akan Takdir.

Islam menegaskan bahwa tidak hanya dengan  iman manusia diselamatkan. Islam mengajarkan bahwa iman dan perbuatan bekerja bersama dan keduanya mutlak perlu untuk keselamatan. Al-Quran berulangkali menekankan bahwa perbuatan-perbuatan baik merupakan wujud atau tanda yang kelihatan dari orang yang beriman. “Mereka yang beriman dan berbuat kebaikan. Bagi mereka pengampunan dan bekal kekayaan” (22:50; 20: 112; 21:94), “dan barangsiapa beriman kepada Allah dan berbuat kebaikan, Allah akan membawanya kedalam Taman yang dibawanya sungai-sungai mengalir, tempat ia tinggal untuk selamanya” (65:11)[5].

Iman dan perbuatan baik saling terkait dan tak dapat dipisahkan. Tindakan yang tidak melandaskan iman tak dapat disebut tindakan baik. Karya tanpa iman yang benar dan tunduk pada kehendak Allah adalah tak ada faedahnya dan tidak dapat diterima oleh Allah (38:30). Al-Quran secara jelas mengajarkan bahwa kepada mereka yang percaya dan berbuat baik, Allah telah menjanjikan surga (20:3; 21:49 22:1-10). Motif dan intensi batin inilah yang membuat tindakan menjadi benar secara iman dan menjadi sebuah tindakan yang baik.[6]

 

Islam dan Alam Semesta

Lantas bagaimana Paham Islam memandang Alam semesta? Gagasan Islam mengenai Alah semesta tidak bisa dilepaskan dari konsep Allah sang Pencipta. Al-Quran, Sabda Allah yang menjadi pedoman pokok beriman orang Islam, memuat berbagai ayat yang menegaskan bahwa alam semesta adalah diciptakan oleh Allah. “Allah yang menciptakan langit serta bumi dan menurunkan hujan dari langit yang dengannya Ia keluarkan buah-buahan untuk makanan bagi kamu” (s14-a.32).

Alam diciptakan bukan tanpa tujuan tetapi untuk kepentingan manusia. Manusia adalah makluk tertinggi di antara segala ciptaan, dan manusia ditunjuk sebagai khalifah atau penguasa-Nya di permukaan bumi.[7] “Ialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di atas bumi” (S.6-a.165).

Berhadapan dengan situasi alam yang rusak akibat tingkah laku manusia Islam mempunyai kearifannya tersendiri. Islam memandang bahwa masalah-masalah ekologis atau lingkungan hidup perlu dipahami secara holistik dan integral. Islam melihat adanya interaksi antara masalah lingkungan fisik, biologis dan sosial dan tindakan-tindakan manusia merupakan sebuah bagian esensial dari iman.[8] Filosofi Islam mengenai ibadah, di mana setiap usaha dan tindakan manusia diletakkan dalam kerangka ketaatan kepada Allah dan perintah-perintahnya adalah sebuah tindakan kesalehan, merupakan sumber pendorong dan inspirasi bagi umat Islam untuk menjaga alam dan melakukan konservasi kosmologi.[9]

 

Kesadaran Ekologis dalam Islam

Dewasa ini ini, Kesadaran ekologis dalam Islam cukup berkembang. Kesadaran bahwa manusia mempunyai peran paling penting dalam mencapai keselamatan dan kemaslahatan hidup bersama sebagai bagian dari alam semesta mulai berkembang. Gerakan-gerakan ekologis dalam dunia Islam mulai tumbuh subur untuk ambil bagian dalam menjaga alam.

Muhamad Ali,  dalam Kompas 22 Februari 2002[10] menulis bahwa Islam mempunyai prinsip “la darara wa la dirara” (jangan merusak), prinsip taskhir (wewenang menggunakan alam guna mencapai tujuan penciptaan) dan prinsip istikhlaf (wakil Tuhan di bumi yang bertanggung jawab, responsible trusteeship). Ia mengutip gagasan Ziauddin Sardar yang menggabungkan prinsip-prinsip Tauhid, khilafah, amanah, halal, dan haram, dengan keadilan, moderasi, keseimbangan, harmoni, istihsan (preference for the better) dan istislah (public welfare). Pemikiran-pemikiran teologis ini bermuara pada satu pesan bagi gagasan ekologis yaitu living in harmony with nature.

Menurut Muhammad Ali, sudut pandang teologis Islam memandang musibah banjir adalah azab Tuhan bagi manusia yang belum jera berbuat kezaliman. Dampak banjir sama sekali melampaui status sosial, suku, atau agama. “Banjir adalah tanda manusia tidak bersyukur atas karunia hujan. Jika kamu bersyukur pasti Kutambah nikmat-Ku dan bila kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih” (Al-Quran: Ibrahim,7).

Muhamad Ali menyatakan bahwa hubungan manusia dan lingkungan dilihat sebagai bagian dari hubungan interaktif antara semua ciptaan Allah, yang dibentuk berdasarkan prinsip berserah diri kepada Allah yang sama. Berserah diri tidak semata-mata praktik ritual, karena kebaktian bersifat simbolik. Kesadaran manusia akan kehadiran Allah harus dibuktikan melalui perbuatan nyata dalam hubungannya dengan sesama manusia dan alam sekitar. Islam memandang bahwa gagasan beriman itu tidak hanya menyangkut relasi personal-vertikal (Allah-manusia) namun juga relasi personal-komunal-horizontal (manusia-manusia-alam).

Arat Sabulungan dan Paham Keselamatan Islam

Lantas, bagaimana Arat Sabulungan berhadapan dengan paham keselamatan Islam? Sejalankah Arat Sabulungan dalam pandangan Islam? Dalam arti tertentu, konsep soterio-ekologis Arat Sabulungan tidaklah bertentangan dengan paham keselamatan Islam berkaitan dengan sikap ekologis manusia. Bahkan keduanya dapat saling mendukung dan melengkapi. Keduanya memandang alam semesta penting dalam keselamatan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Namun tak dapat dipungkiri pula bahwa sikap cinta alam semesta atau keutamaan ekologis pun menjamin keselamatan di masa mendatang. Manusia memang sebagai yang terutama di antara segala ciptaan tetapi tidak berarti bahwa manusia manusia bisa hidup sendiri tanpa alam dan dapat bertindak sewenang-wenang terhadap Alam.

Meski ada persamaan di antara keduannya, ada perbedaan mendasar atas paham keselamatan yang sifatnya soteriologis. Arat Sabulungan menyatakan bahwa keselamatan mereka ditentukan oleh sikap mereka dalam menaati hukum-hukum alam yang termanifestasi dalam sosok-sosok impersonal dalam alam semesta. Roh-roh dianggap berkuasa atas hidup mereka. Arat Sabulungan mengajarkan bahwa Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan mereka tetap aman damai, dan tinggal dalam suasana berkat. Ganjarannya dari ketaatan menurut hukum diterima serta-merta di dunia ini.

Islam lebih mengajarkan sesuatu yang cukup berbeda. Yang terutama adalah Beriman dengan menyerahkan diri secara total kepada Allah yang Esa, melaksanakan perintah-perintahnya, dan mentaati hukum-hukumnya. Ganjaran yang diterima akibat perbuatannya baru akan dialami pada keselamatan di akhirat. Jika mereka mampu melaksanakannya, pintu surga keselamatan terbuka lebar bagi mereka. Sebaliknya, jika mereka melanggar bahkan menolaknya, mereka telah berbuat dosa yang akan menyeret mereka dalam siksa api neraka yang tak pernah padam selamanya sebagai ganjaran yang setimpal.

Islam memandang bahwa perilaku manusia terhadap alam, meski tetap dipandang berdampak pada kehidupan sekarang (misalnya penebangan hutan mengakibatkan bencana longsor dan banjir), tetap berberkaitan pula dengan dimensi eskatologis. Penulis lebih suka menggunakan istilah Soterio-eskologis. Konsep soterio-ekologis Islam bisa dijelaskan sebagai berikut: Manusia merusak alam, mengakibatkan banjir, merusak kemaslahatan hidup bersama, mengakibatkan penderitaan orang lain sehingga membuatnya juga berdosa. Ganjarannya adalah murka Allah pada hari Pengadilan.

Tentu saja gagasan Arat Sabulungan mengenai penguasa hutan (Taikaleleu) tak dapat diterima oleh paham Islam. Satu-satunya penguasa alam semesta adalah Allah, tiada yang lain (tauhid). Mempercayai adanya kekuatan impersonal lainnya menempatkan orang berdosa paling berat karena menduakan Allah atau dosa syirik.

Perbandingan dengan Paham Keselamatan Kristiani

Bagaimana dengan Gereja Katolik? Apakah konsep soterio-ekologis Arat Sabulungan dan paham Islam dapat diterima? Untuk menjawabnya, perlu kajian lebih jauh. Penulis akan mengawalinya dengan konsep keselamatan Kristiani dan paham ekologinya.

C. Groenen, dalam bukunya Soteriologi Alkitabiah, menjelaskan keselamatan kristiani itu sebagai sebuah Utopia Ilahi, karena mau menunjukkan bahwa keselamatan itu diluar jangkauan manusia, belum sepenuhnya dialami[11]. Istilah keselamatan biasanya merujuk pada istilah syaloom, eirene yang berarti damai sejahtera. Keselamatan itu pada dasarnya berarti keselarasan manusia dari semua segi dan seluruh dimensinya: keselarasan dengan Allah sebagai ciptaan dan Pencipta (dimensi vertikal), keselarasan dengan sesama manusia (dimensi sosial) dan keselarasan dalam menggarap dunia material dan vegetatif atau alam semesta (dimensi kosmis).[12] Namun perlu dibedakan antara keselamatan atau utopia Ilahi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.[13]

  1. 1.      Perjanjian Lama

Dalam dunia Perjanjian Lama ada kata Ibrani yang dikenal luas yang digunakan untuk mengidentifikasi keselamatan. Kata itu adalah syaloom yang bermakna keadaan yang berlimpah kenyang, puas bahagia segala kebutuhan tercukupi dan sebagainya. Bagaimana syaloom itu digambarkan? Im 26:3-13 merupakan salah satu gambaran apik yang menyatakan bahwa ada tiga dimensi dasar keselamatan: relasi dengan alam dunia (dimensi kosmis), dengan sesama (dimensi sosial) dan dengan Allah (dimensi religius). Kej 1 juga berbicara soal tiga dasar keselamatan itu. Kejadian menggambarkan bahwa syaloom adalah keselarasan, keteraturan keselamatan kosmis yang dibuat Allah dengan mengendalikan khaos awal, dan itu harus dipertahankan manusia sesuai dengan kuasa yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Manusia dianugerahi barakah (berkat) untuk melanjutkan keselarasan kosmos agar tidak jatuh kembali pada suasana khaos.

Unsur lain yang penting adalah kaitan antara syaloom dengan Perjanjian.

Perjanjian lama meletakkan keselamatan menyeluruh dan sejati dalam rangka Perjanjian Allah dengan manusia (bdk Yes 24:5; Kej 9:8-17). Perjanjian ini berkaitan dengan pilihan kasih Allah siafnya adikodrati dan kolektif. Ul meletakkan keselamatan dalam kaitan dengan perjanjian dalam sejarah (penyelamatan). Kegagalan dalam mencapai keselamatan terjadi karena pada manusia tidak ada tsedeqah (keadilan/kebenaran) yang berdampak pada ketidakselarasan antar sesama manusia dan dengan kosmos. Tekanan keselamatan dalam Perjanjian Lama lebih bersifat kolektif dari pada perorangan, meski terbuka pula pada keselamatan individual.

  1. 2.      Perjanjian Baru

Tema pokok keselamatan dalam Perjanjian Baru masih melanjutkan gagasan Perjanjian Lama, namun sekaligus menampilkan kebaruannya. Perjanjian Baru masih menggambarkan situasi selamat dengan dua kata, yaitu soteria (penyelamatan) dan eirene (damai sejahtera, keselamatan). Kebaruannya terletak dalam pribadi Yesus Kristus (bdk. Luk 2:14 Ef 2:14). Kristuslah pokok, pusat sekaligus titik pangkal pembicaraan mengenai keselamatan. Dalam Perjanjian Baru Keselamatan mendapat ciri yang lebih individual dan personal, kurang kolektif. Keselamatan iru ditawarkan kepada setiap orang, secara pribadi. Perjanjian Baru mewartakan keselamatan yang lebih bersifat eskatologis. Keselamatan kini sudah terwujud sepenuhnya dalam diri Yesus Kristus dan manusia menjadi peserta di dalamnya. Namun keselamatan itu baru menjadi suatu realitas definitif pada segala dimensinya di akhir sejarah.

Kristianitas Islam dan Arat Sabulungan mengenai Soterio-ekologis

Menurut penulis kekhasan Kristianitas menyangkut dua dimensi yaitu sekarang (dimensi historis) dan mendatang (dimensi eskatologis). Dimensi sekarang adalah berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia dalam alam semesta. Seperti Arat Sabulungan, Kristianitas mengajarkan perlunya keselamatan yang berdimensi kekinian, yang bersifat historis. Keselamatan, terjadi untuk saat ini, ketika manusia berdamai dengan sesama (dimensi sosial) dan hidup berdampingan dengan alam (dimensi kosmis) dan terkait dengan relasi yang baik antara manusia dengan sang Pencipta (dimensi religius). Sama seperti Allah dalam Perjanjian Lama mengatur khaos awal, dan mengubahnya menjadi keteraturan kosmis, manusia pun dipanggil untuk mempertahankan keselarasan, dan keselamatan kosmis. Kej 1:28 mestinya tidak ditafsirkan sebagai anjuran manusia untuk “menguasai” dan mengeksploitasi alam tanpa batas, namun sebaliknya peduli pada kelestarian ekologis.[14]

Keselamatan tercapai bila keseimbangan relasi dan keteraturan itu selalu dijaga. Dalam surat-surat Paulus, penebusan Kristuspun merasuk dalam penebusan kosmos yang berkaitan dengan penciptaan. Dunia dan secarah selalu berada dibawah kuasa, tindakan penciptaan dan penyelamatan ilahi. Penciptaan itu sendiri berdimensi Kristosentris. Artinya Tuhan menciptakan dunia dalam Kristus sebagai titik keteguhan, dasar primordial dan kekal awal dan akhir (Why 1:8).[15]

Dunia tidak dapat dipandang dalam kekuatannya sendiri, namun selalu terkait dengan hubungan asalnya yang dinamis dengan Tuhan. Maka Arat Sabulungan sebagai pintu masuk mengenalkan Kristus dengan menganalogikannya dengan peran Taikaleleu. Konsep keduanya makin meneguhkan gagasan bahwa alam semesta itu sakral karena berkaitan dengan karya keselamatan Ilahi, yaitu Kristus (Kristiani) dan Taikaleleu. Maka, manusia dipanggil untuk terlibat menjaga kesakralan kosmos atau alam semesta demi menjaga tetap keberlangsungannya karya keselamatan bagi manusia. Konsep soterio-ekologis keduanya saling melengkapi.

Kesimpulan

semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Gagasan Arat Sabulungan dalam menjaga hutan mampu menjamin keselamatan mereka (entah kolektif mau individual).  Gagasan mereka mampu menyumbangkan sesuatu demi pengembangan cara hidup yang pro-kosmos (ekologis) sekaligus memberi inside terkaitan dengan soteriologi atau keselamatan hidup manusia.

Arat Sabulungan pun berperan dalam mewujudkan iman kepada Allah dalam Islam, sebagai sebuah tindakan yang baik, yang terarah dalam menjaga kemaslahatan hidup bersama, sehingga tercapailah keselamatan di akhirat. Arat Sabulungan rupanya juga menarik dan bisa menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus, yang hadir dalam sejarah, menyentuh juga relasi-relasi manusia, yaitu relasi sosial, kosmis dan religius. Kedudukan dan peran Taikaleleu dapat dianalogikan dengan Kristus sebagai pelaksanaan keselamatan kini dan akan datang. Di sinilah ikulturasi keselamatan dapat terwujud dengan baik, dalam sebuah konsep, soterio-ekologis.

Edisi PDF klik file inimentawai

 

DAFTAR PUSTAKA

 

C. Groenen,

1989  Soteriologi Alkitabiah, Kanisius, Yogyakarta.

Chang, Willian,

2001  Moral Lingkungan Hidup, Kanisius, Yogyakarta

Dhavamony, Mariasusai,

1995  Fenomenologi Agama, Kanisius, Yogyakarta.

                  

G. Koovckal,

1982  “Salvation according to Islam”, Indian Missiological Review Oktober.

GH. Nabi Ganai,

1995 “Nature Conservation in Islam”, Islam and The Modern Age vol. XXVI

Harun Nasution,

1989  “Konsep Islam tentang Pembangunan dan Lingkungan Hidup suatu Tinjauan Menyeluruh”, Peninjau th. XIV .

J. Woly, Nicolas,

2010  Saudaraku di Serambi Iman yang Harus Kukenal, Penerbit  Gita Kasih, Kupang.

Stefano Coronese,

1986  Kebudayaan Suku Mentawai, Penerbit PT Grafidia Jaya, Jakarta

Surip, Stanislaus,

2007 “Peduli Ekologi”, dalam Sekretariat PSE KWI, Kajian Lingkungan Hidup, Komisi PSE KWI, Jakarta

 

Sumber Internet:

http://agamadanekologi.blogspot.com/2007/03/konservasi-alam-dan-lingkungan-dalam.html.

http://siierliana.blogspot.com/2011/01/adat-istiadat-suku-mentawai.html.


[1] Disarikan dari buku karangan Stefano Coronese, Kebudayaan Suku Mentawai, Penerbit PT Grafidia Jaya, Jakarta 1986, 1-13.

[3]Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, Kanisius, Yogyakarta 1995,313.

[4] Nicolas J. Woly, Saudaraku di Serambi Iman yang Harus Kukenal, Penerbit  Gita Kasih, Kupang 2010, 164.

[5] Seperti dikutip oleh G. Koovckal, “Salvation according to Islam”, Indian Missiological Review Oktober (1982) 380-381

[6] G. Koovckal, “Salvation according to Islam”, 381.

[7] Harun Nasution, “Konsep Islam tentang Pembangunan dan Lingkungan Hidup suatu Tinjauan Menyeluruh”, Peninjau th. XIV (1989) 130.

[8] GH. Nabi Ganai, “Nature Conservation in Islam”, Islam and The Modern Age vol. XXVI (1995) 280.

[9] GH. Nabi Ganai, “Nature Conservation in Islam”, 281.

[11] C. Groenen, Soteriologi Alkitabiah, Kanisius, Yogyakarta 1989, 33.

[12] C. Groenen, Soteriologi Alkitabiah, 74.

[13] Gagasan ini merangkum dari pemikiran C. Groenen, Soteriologi Alkitabiah, 37-76.

[14] Surip Stanislaus, “Peduli Ekologi”, dalam Sekretariat PSE KWI, Kajian Lingkungan Hidup, Komisi PSE KWI, Jakarta 2007, 56.

[15] Willian Chang, Moral Lingkungan Hidup, Kanisius, Yogyakarta 2001, 53.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s