UNIVERSALITAS KESELAMATAN ALLAH DAN PEWARTAAN INJIL

Refleksi atas Lumen Gentium 15-17

Di tengah dunia yang serba pluralitas ini, pertanyaan mengenai keselamatan selalu muncul. “Apakah agamaku saja yang mampu menyelamatkan, ataukah dalam agama lain ada keselamatan? Kalau iya, mengapa orang masih bertikai mengklaim hanya agamanya yang mampu menyelamatkan?”
Diskusi mengenai keselamatan menjadi pembicaraan yang tak pernah berhenti. Gerakan untuk saling memahami satu sama lain pun bergulir. Keinginan untuk duduk bersama bergandengan tangan menatap dunia baru mendorong orang untuk berdialog satu sama lain. Begitu juga dengan Gereja Katolik. Gereja Katolik berusaha untuk menjalin gerakan kesatuan diantara murid-murid Kristus dan juga dengan agama lain. Namun persoalan baru muncul: Bagaimana Keselamatan itu menjangkau gereja atau agama lain? Jika kemudian muncul gagasan keselamatan ada dalam diri semua agama-agama, lantas apa kekhasan Gereja? Bagaimana pula dengan tugas perutusan Gereja untuk mewartakan Injil kepada seluruh makluk?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pintu masuk untuk memahami Lumen Gentium artikel 15-17. Dalam paper ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai poin-point pokok dan penting mengenai Universalitas Keselamatan Allah dan Pewartaan Injil dalam LG artikel 15-17.

1. LG 15: Hubungan Gereja dengan Orang Kristen Bukan Katolik
Lumen Gentium 15 berbicara mengenai hubungan Gereja dengan orang Kristen bukan Katolik.
1.1 Hubungan Gereja Katolik dan Gereja Kristen
Gereja memandang ada sejumlah perbedaan antara Gereja Katolik dan Gereja Kristen lainnya misalnya dengan Gereja Protestan. Pokok Gereja Protestan adalah kehormatan bagi keagungan karya keselamatan Allah. Keselamatan manusia itu sudah ditentukan sepenuhnya oleh Allah dan manusia hanya pasif saja terhadap keselamatan itu (prinsip predestinasi). Tanggapan manusia terhadap karya Allah ini adalah iman, namun dalam pengertian mempercayakan diri kepada Allah. manusia tidak berhak memikirkan keselamatan, karena semata milik Allah. dasar iman adalah Allah dan sabdaNya. Manusia tahu bahwa dirinya berdosa, maka hanya diselamatkan karena kerahiman Allah. Hanya dengan iman saja manusia diselamatkan bukan dengan perbuatannya. Sabda Allah dalam alkitab menjadi satu-satunya pegangan. Oleh karena itu sakramen hanya merupakan tanda yang menolong manusia untuk membangkitkan iman akan karya keselamatan Allah yang telah terlaksana dalam Yesus Kristus. Perbuatan baik memang dihargai dan diharapkan, namun hanya sebagai tanda seseorang mempunyai iman. Kalau manusia berbuat baik itu bukanlah usahanya sendiri melainkan rahmat Allah semata. Kebebasan manusia dalam bertindak nampaknya kurang dihargai. Gereja tidak dipandang sebagai sarana keselamatan, manusiawi belaka dan gereja tidak menghadirkan karya keselamatan dalam sakramen-sakramen.

1.2 Kesatuan Gereja
LG 15 tidak menekankan perbedaan yang cukup jauh antara Gereja katolik dan orang kristen lainnya, justru sebaliknya mencari penghubung di antara mereka. KV II menyadari adanya hubungan yang sungguh-sungguh dalam Roh Kudus. Bukan dalam arti lahiriah saja melainkan persatuan yang nyata dalam Kristus. Persamaan itu adalah:
• Baptisan. Semua orang disebut Kristen bila ia dibaptis. Melalui baptisan seseorang dibenarkan karena iman dan dimasukkan dalam Tubuh Kristus (incorporatur). Semua orang kristen mempunyai iman yang sama yaitu akan Yesus Kristus, namun ungkapan iman di luar Gereja (Katolik) tidak penuh karena tidak mengakui ajaran iman seutuhnya (Magisterium) dan kesatuan dibawah pengganti Petrus.
• Kitab Suci sebagai ungkapan sabda Tuhan. Menghormati Kitab Suci merupakan ciri khas dari saudara-saudara kristen Protestan. Lumen Gentium menyatakan bahwa Kitab Suci (Alkitab) di terima oleh orang Kristen sebagai norma kepercayaan dan kehidupan.
• Beriman akan Allah Bapa yang maha kuasa dan akan Kristus Putera Allah dan penyelamat. Meskipun ada perbedaan antara ajaran Katolik dan ajaran kristen lain mengenai misteri penjelmaan dan karya penebusan, namun semua orang Kristen mencari Kristus sumber dan pusat kerukunan gerejani.
• Hidup sakramental. Baptisan menjadi gerbang pembuka hidup sakramental. Gereja lain mengakui ada sakramen lain. Lumen Gentium secara khusus menggarisbawahi soal sakramen Ekaristi dan Tahbisan Uskup. Gereja melihat dalam gereja lain Ekaristi tidak sepenuhnya sama dalam makna dan isinya. Gereja menegaskan bahwa makna dan isi Ekaristi didasarkan pada seluruh ajaran iman, seluruh susunan Gereja dan seluruh kehidupan sakramen.
• Santa Perawan Maria. Meskipun Maria tidak selalu dihormati dengan cara yang sama seperti Gereja Katolik, namun Maria mempunyai tempat dalam pusat hidup kristiani. Yang paling utama tidak terletak pada kebaktian atau devosi kepada Maria tetapi Maria dalam keseluruhan ajaran dan hidup Gereja (bdk LG 52-69).

1.3 Gereja dan Persekutuan Gerejani
Lumen Gentium tidak menggunakan istilah heretik dan skismatik lagi. Perbedaan antar gereja itu diungkapakan dengan istilah Gereja dan persekutuan Gerejani. Istilah Gereja merujuk pada orang kristen yang mempunyai hirarki yang sah (Katolik); yang lainnya disebut persekutuan Gerejani. Namun perlu dingat dalam konteks ekumenis, bahawa himpunan orang beriman kristiani disebut Gereja karena di dalamnya Gereja Kristus direalisasikan secara sakramental. Gereja adalah pelaksanaan Sakramental dari karya keselamatan Kristus. Dengan pewartaan sabda Tuhan, dengan perayaan sakramen khususnya Ekaristi, dengan persatuan dengan umat setempat terwujudlah kesatuan dalam iman akan Yesus Kristus. Kesatuan itu tidak hanya atas dasar iman tertapi juga kebesamaan dalam mewujudkan iman dalam bentuk yang sungguh manusiawi. Iman yang dihayati oleh orang kristen adalah sama meski wujud gereja tidak sama.
Kalau orang berbicara mengenai kesatuan umat Kristen, kesatuan itu tidak didasarkan pada beberapa unsur ajaran atau hidup menggereja yang sama dengan Gereja Katolik. Kesatuan terletak dalam Yesus Kristus sendiri sebagai dasar dan tujuan iman yang sama dan kesatuan itu terletak pada “hubungan sejati dalam Roh Kudus yang dengan daya pengudusanNya juga berkarya di antara mereka dengan melimpahkan anugerah serta rahmatNya”. Gereja Katolik sadar bahwa Gereja adalah Sakramen keselamatan yang mempunyai bentuk secara historis dan terbatas dan mengakui dalam gereja lainpun ada rahmat keselamatan pula.
“Roh Kudus membangkitkan pada semua murid Kristus keinginan dan kegiatan supaya semua saja dengan cara yang ditetapkan oleh Kristus secara damai dipersatukan dalam satu kawanan dibawah satu Gembala”. Dorongan untuk membangun kesatuan antar gereja pertama-tama berasal dari Roh Kudus sendiri. Namun kesatuan ini bukan mau mengharuskan semua gereja menggabungkan diri salam satu Gereja Katolik, karena Gereja Katolik termasuk ssejarah keselamatan yang mesti terus berkembang dan berproses menuju kesempurnaan eskatologis, dengan cara memperbaharui diri senantiasa. Caranya? Tidak ada yang tahu. Gereja cukup menyerahkan diri pada bimbingan Roh Kudus yang akan membawa kepada kesatuan yang dikehendaki Kristus sendiri sebagai sang Gembala Sejati. Dengan demikian “tanda Kristus semakin cemerlang bersinar pada wajah Gereja”.

2. LG 16 : Umat Bukan Kristiani
Berbicara mengenai umat bukan Kristiani, kita bisa langsung bertanya: Apakah mereka juga diselamatkan? Kalau diselamatkan, apakah mereka selamat karena agamanya itu sendiri? Pertanyaan ini menjadi dasar munculnya Lumen Gentium 16. Adapun inti pokok dari Artikel 17 adalah:
• Mereka yang belum mengenal Injil diarahkan kepada Umat Allah
• Allah menghendaki Keselamatan semua orang
• Meski belum mengenal Kristus, orang dapat diselamatkan karena melaksanakan kehendak Allah melalui suara hati dengan perbuatan nyata
• Segala kebaikan dalam agama lain merupakan persiapan Injil.
Akhirnya mereka yang belum menerima Injil dengan berbagai alasan diarahkan kepada Umat Allah. Pernyataan ini mengindikasikan adanya universalitas keselamatan. Karya keselamatan diarahkan pada semua orang. Untuk diselamatkan orang tidak perlu menjadi anggota Gereja. Namun, Gereja adalah tanda kehadiran Kristus. Allah hadir di tengah-tengah dunia dalam dan melalui Gereja. Kekhasan Gereja bukan terletak bahwa dengan menjadi anggota Gereja orang lebih mudah diselamatkan. Kekhasan Gereja adalah Allah yang mewahyukan diri dalam diri Kristus kepada dunia melalui Gereja. Selanjutnya perlu dilihat bagaimana orang-orang non kristiani dapat diselamatkan.

2.1 Agama Yahudi
Terutama bangsa yang telah dianugerahi perjanjian dan janji-janji, serta merupakan asal kelahiran Kristus menurut daging (lih. Rom 9:4-5), bangsa terpilih yang amat disayangi karena para leluhur; sebab Allah tidak menyesali kurnia-kurnia serta panggilan-Nya (lih. Rom 11:28-29). Pernyataan Lumen Gentium ini merujuk pada umat Yahudi. Di antara agama-agama non Kristiani, orang Yahudi mempunyai sejarah keselamatan yang paling dekat dengan Gereja. Konsili hanya mau mengatakan bahwa mereka mereka sebagai turunan bangsa Israel mempunyai hubungan yang istimewa dengan mereka yang memandang diri “dalam Kristus sebagai keturunan Abraham” (Gal 3:29) yaitu orang-orang kristiani.

2.2 Agama Islam
Namun rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; diantara mereka terdapat terutama kaum muslimin, yang menyatakan bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat. Pernyataan Lumen Gentium ini merujuk pada umat Islam. Dalam Al-Quran nama Yesus dan orang kristiani pun disebut. Secara historis, Islam adalah agama post-kristiani atau lahir sesudah Kristus. Secara teologis kristianitas berbeda dengan Islam, meski diakui islam juga berpegang pada iman Abraham dan menyembah Allah yang satu. Pewahyuan Allah yang penuh dalam diri Yesus Kristus tidak diterima oleh umat Islam, dan mengakui Yesus sebatas seorang nabi saja. Maka berbicara mengenai kesatuan antara Gereja dan Islam, Lumen Gentium tidak mendasarkannya pada hubungan historis antara keduanya, melainkan adalah kesatuan karya keselamatan Allah yang bekerja dalam hati semua manusia.
Kata Allah yang Tunggal sebagai pokok agama Islam sama dengan keesaan Allah yang dipahami oleh Gereja. Sedangkan berkaitan dengan kerahiman Allah konsili merujuk pada kerahiman Allah sendiri yang menjadi teladan bagi orang Kristiani dan Islam untuk saling mengampuni dan mencari dialog persaudaraan yang sejati.

2.3 Agama-agama Lain
Pun dari umat lain, yang mencari Allah yang tak mereka kenal dalam bayangan dan gambaran, tidak jauhlah Allah, karena Ia memberi semua kehidupan dan nafas dan segalanya (lih. Kis 17:25-28), dan sebagai Penyelamat menghendaki keselamatan semua orang (lih. 1Tim 2:4). Rumusan ini merujuk pada agama-agama lain di luar agama “Wahyu” (Kristen, Yahudi, Islam) seperti Budha, Hindu dan agama “animis” lain. Gereja melihat yang penting dalam agama-agama tersebut terletak pada tujuannya yaitu penerangan budi manusia yang harus dicapai dalam suatu identifikasi dengan Tuhan. Artinya, agama-agama ini tidak mengakui Allah sebagai Penguasa segala-galanya, namun sebagai pat jiwa manusia, kesatuan hamba dan Tuhan, atau dalam istilah Jawa: manunggaling kawula Gusti. Tekanan bukan pada panggilan Allah yang secara aktif memasuki sejarah manusia (wahyu Allah) tetapi pada pengalaman batin manusia itu sendiri. Lumen Gentium melihat bahwa agama-agama itu “tidak jauhlah dari Allah” dari mereka yang mencariNya dalam bentuk simbolis atau dalam segala macam gambaran. Artinya, orang yang sungguh-sungguh mencari Allah, yang kepadanya ia ingin taat, orang itu mempunyai hubungan personal dengan Allah. Jadi tekanannnya pada sikap batin seseorang.
Dalam Nostra Aetate dijelaskan dengan lebih mendetail bagaimana Gereja menghormati apapun yang benar dan suci dalam agama-agama lain. “Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan memantulkan sinar kebenaran yang menerangi semua orang” (NA 2). Namun Gereja tidak mau mengatakan sejauh mana agama-agama non kristiani membantu orang untuk sampai pada karya keselamatan itu. hanya secara umum Gereja mengatakan rahmat Allah juga bekerja dalam agama-agama itu.
Yang paling menarik adalah sikap Gereja terhadap kaum ateis. Gereja bahkan tetap melihat mereka pun dapat mengalami karya keselamatan Allah. Konsili memandang ateis di sini tidak sepenuhnya menolak Allah, namun belum sampai pada pengakuan akan eksistensi Allah yang eksplisit. Orang-orang ini sebenarnya mencari Allah, tetapi menyebutnya Keadilan atau Perdamaian.

2.4 Persiapan Injil
Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, Gereja dipandang sebagai persiapan Injil, dan sebagai karunia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan. Inilah kesimpulan terakhir sikap Gereja terhadap agama non Kristiani yaitu sebagai “Persiapan Injil”. artinya dalam diri agama-agama lain terkandung Benih-benih kebenaran yaitu pengertian mengenai apa yang baik dan benar merupakan persiapan yang tepat bagi Pewahyuan Injil. Persiapan Injil berarti hati manusia siap untuk menerima sabda Allah. Yang paling utama bukanlah pengajaran teoritis atau pengentahuan tentang Allah. Gereja lebih menekankan unsur-unsur dalam agama-agama lain yang membuat orang lebih peka dan terbuka bagi sabda Allah yang ditujukan kepadanya.

3. LG 17: Sifat Misioner Gereja
Artikel 17 berbicara mengenai sifat misioner Gereja. Adapun inti pokok dari Artikel 17 adalah:
• Bapa telah mengutus sang Putera. Sang Putera mengutus para rasul untuk mewartakan kabar keselamatan ke seluruh bumi. Maka Gereja mengambil alih tugas para Rasul dengan dorongan Roh Kudus. Inilah “dimensi triniter” dari misi Gereja.
• Dasar Misi: Matius 28:19-20
• Tugas Misioner, bukan hanya tugas segelintir orang atau para misionaris, namun tugas semua orang beriman yang telah dibaptis
• Misi itu tidak bermaksud menghilangkan kebenaran yang sudah ada dalam diri bangsa yang belum mengenal Kristus dalam segala kebudayaannya, namun disempurnakan demi kemuliaan Allah. disinilah makna penting dari “dialog”.
Konsili Vatikan II telah menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap Gereja-gereja non Katolik, bahkan terhadap agama non Kristiani. Namun, bukan berarti Gereja Katolik merasa tidak wajib atau perlu lagi melaksanakan Pewartaan Injil Kristus melalui karya misi. LG 17 menegaskan bahwa Gereja tetap harus melaksanakan karya misi.
Sebelum Konsili Vatikan II, Gereja dipahami sebagai sebuah institusi supranatural dan sempurna yang dipercayakan kepada hirarki. Maka pengertian misi saat itu dibentuk atas cara pandang Gereja saat itu. Misi diartikan sebagai pendirian institusi yang sempurna ini di wilayah di mana Gereja itu belum hadir. Tugas ini disempurnakan oleh orang-orang yang khusus melaksanakan karya misi yaitu para misionaris yang dikirim oleh Propaganda Fidei. Kaum pagan atau kafir (sebutan untuk mereka yang belum mengenal Kristus) harus masuk dalam institusi ini jika ingin menerima keselamatan bagi jiwa-jiwa mereka.

3.1 Gereja Sebagai Sakramen Kristus
Dalam artikel 17 ini ditandaskan bahwa segala kebaikan dalam hati manusia dengan seluruh kebudayaannya tidaklah dihilangkan, namun justru disempurnakan. Artinya, Usaha misi Gereja untuk bangsa-bangsa hadir dalam bentuk “dialog”. Gereja datang tidak untuk mengubah yang lain atau pertama-tama berbicara mengenai keselamatan bangsa-bangsa, namun mengenai diri (hidup dan hakekat) Gereja sendiri. Tom Jakobs melihat bahwa LG 17 ini mau memberikan “asas teologis misi” yaitu misi sebagai hakekat Gereja. Misi bukan berarti sesuatu yang boleh atau dapat dijalankan Gereja. Kalau ada Gereja, pasti ada misi. Andaikata Gereja tidak melaksanakan misi, Gereja itu bukan Gereja Kristus lagi.
Allah mewahyukan diri dalam Kristus, dan pernyataan itu tetap hadir di dunia karena iman narapan dan cinta kasih Gereja. Gereja adalah himpunan orang yang dengan harapan, iman dan kasih menjawab pemberian diri Allah dalam Kristus. Dengan demikian, Gereja bersatu dengan Allah pula, meski tidak seperti Kristus sendiri.

3.2 Dasar Kegiatan Misi Gereja: Matius 28:19-20
Konstitusi ini mengatakan, ”seperti Putera oleh Bapa, begitu pula Ia sendiri mengutus para Rasul”. Artinya, Perutusan Gereja berdasarkan misi atau perutusan Kristus. Kristus diutus oleh Bapa, dan Gereja diutus oleh Kristus. Kutipan Mat 28: 19-20 menjadi dasar kuat dan penuh Perutusan Gereja oleh Kristus. Kata-kata dalam Mat 28:19-20 ini menyatakan tugas Gereja seluruhnya yang diterima dari Kristus. Selain itu, perintah Yesus itu juga menyatakan kuasa Kristus dan dan Kehadirannya yang tetapi dalam Gereja. Kristus memberikan perintah itu dalam kesadaran akan kepenuhan kuasaNya dan merupakan sebuah kesimpulan langsung dari karya keselamatan Allah yang mencapai kepenuhannya dalam Kristus sendiri. Pernyataan ini menegaskan bahwa Misi bukanlah pertama-tama karya Gereja, namun tindakan Kristus sendiri. Gereja tidak bisa mengatakan dirinya sebagai pelaksana karya keselamatan dalam arti sepenuhnya, sebab Allahlah sang pelaksana. Gereja hanyalah sakramen karya Allah. Dasar misi adalah hakekat Gereja sebagai sakramen dari Kristus (bdk. LG 1). Di dalam dan melalui Gereja Allah menyatakan diriNya kepada dunia.

3.3 Karya Misi
Dalam pelaksanaannya, LG 17 menegaskan bahwa Misi mempunyai unsur pokok yaitu pewartaan Injil untuk membawa orang kepada iman serta pembaptisan, dan pembentukan Gereja-gereja setempat sebagai kepenuhan persatuan-sakramental dengan Kristus. Tujuannya agar rencana keselamatan Allah, yang menetapkan Kristus sebagai asas keselamatan bagi seluruh dunia, terlaksana secara efektif. Namun, kegiatan itu baru di sebut misi dalam arti yang sesungguhnya, kalau Injil diwartakan dan Gereja setempat dibentuk di tengah bangsa-bangsa yang secara keseluruhan belum mengenal Kristus. Misalnya orang tidak bisa mengatakan bermisi di sebuah negara Eropa (Skandinavia misalnya) di mana orang kristiani sedikit, karena dalam sejarah pembentukan negara itu, Gereja dan kristianitas memberi pengaruh yang besar sekali. Berbeda dengan Asia dan Afrika, Kristianitas asing karena karena bukan bagian dari “nation building” atau sebagai unsur pembentuk sejarah dan kebudayaan nasional. Gereja datang dan hadir tidak serta merta membawa kebudayaan yang serba baru, namun terintegrasikan dalam struktur masyarakat dan kebudayaan yang sudah ada dan hidup. Ketika kelompok orang beriman ini masih kecil dan tergantung pada luar, dalam situasi semacam ini Gereja setempat masih disebut misi. Namun kapan suatu Gereja tidak disebut sebagai misi lagi sulit ditetapkan. Ini terjadi karena proses pembentukan Gereja Setempat berlangsung bertahap dalam sebuah perkembangan, tidak sekali jadi (bdk. AG 6).

3.4 Misi sebagai sebuah “Perjumpaan”
Lumen Gentium mengungkapkan bagaimana Gereja mulai membuka diri dengan hati yang terbuka bagi segala unsur religius yang telah tertanam dalam bangsa di mana Gereja ditanamkan. Gereja datang tidak dengan membawa suatu bentuk kehidupan tertentu. Yang pertama-tama Gereja bawa adalah suatu sikap, yaitu sikap penyerahan iman. Memang, Gereja datang dengan sikap dalam bentuk atau bungkus kehidupan tertentu dan asing. Gereja Eropa tentu saja menghadirkan sikap iman, dalam bentuk budayanya yang berbeda dengan budaya setempat, misalnya budaya di Asia. Maka Gereja harus mengadakan perjumpaan dengan bentuk kehidupan setempat yang asli. Maka dalam perjumpaan itu, yang ditanamkan bukanlah bentuknya yang asing itu, namun inti sikap yang terwujud dalam bentuk itu. Oleh karena itu, LG 17 secara mendasar telah menerima prinsip “pluriformitas” Gereja, sehingga Gereja tidak mungkin lagi mengklaim bentuk manakah yang merupakan bentuk Gereja Kristus yang asli. Gereja Kristus hadir dalam Gereja Katolik (LG 8B) dan Gereja yang universal terwujud dalam dari dari Gereja-gereja Setempat (LG 23A). Gereja Kristus itu sungguh hadir dalam semua umat beriman setempat (LG 26). Hal itu berarti Gereja Kristus sungguh hadir dalam Gereja setempat, tetapi Gereja setempat tidak sama dengan Gereja Kristus karena kehadiran Gereja Kristus ini adalah kehadiran sakramental.
Misi secara teologis harus dimaknai sebagi sebuah perjumpaan antara Gereja-gereja. Dan dalam perjumpaan itu Gereja selalu berusaha berjuang dan berziarah menuju pada pelaksanaan penuh di mana Allah menjadi segala-galanya dalam segala-galanya.

3.5 Tugas Misi: panggilan semua anggota Gereja
Akhirnya setiap orang mengemban tugas yang sama yaitu tugas membangun Gereja yang baru. Setiap orang beriman mempunyai kewajiban untuk mewujudkan sikap iman dalam bentuk kehidupan yang asli. Perwujudan sikap iman bukan pada tataran teori belaka, namun sungguh dalam pelaksanaan hidup “Setiap murid Kristus mengemban beban untuk menyiarkan iman sekadar kemampuannya”. Kalimat ini mengindikasikan bahwa setiap naggota Gereja wajib mewartakan Injil lewat kesaksian hidup mereka dalam kehidupan nyata setiap hari.

Penutup
Dari semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Universalitas keselamatan Allah menjangkau semua orang, apapun agamanya. Lumen Gentium 15-17 menampilkan kebaruan dan semangat aggiornamento Gereja yang jelas, bagaimana Gereja memandang perlunya menjalin hubungan dengan Gereja lain menuju kesatuan yang tak tersangkalkan, yaitu Yesus Kristus sendiri. Gereja juga memandang agama-agama lain pun memantulkan kebenaran yang menjadi persiapan Injil. Ini menunjukkan sikap positif gereja dalam mengadakan pembaharuan yang menyeluruh demi tercapainya peradaban dunia yang lebih baik.
Namun Gereja tetap perlu juga mengembangkan sifat Misionernya, karena misi itu sendiri adalah hakekat Gereja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s