HUKUM KAUSALITAS ALAM PERBANDINGAN PATICCA SAMUPPADA DENGAN GAGASAN IBH RUSH

Pengantar

Pembicaraan mengenai alam, selalu menarik perhatian orang. Perkembangan astronomi yang pesat, menandakan banyak orang ingin mencoba menyingkap misteri alam yang sejauh ini belum diketahui batasnya. Mereka berlomba untuk memahami betapa menarik dan mengagumkan alam semesta ini.

Ketika fenomena Stephen Hawking mencuat, sempat mengguncang dunia, orang-orang juga mulai memikirkan apakah dunia ini diciptakan, atau memang sudah ada karena interaksi alamiah partikel-partikel yang saling bergantung tanpa sentuhan dari seorang Pengada. Hawking, menolak gagasan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta. Akibatnya, perdebatan di mana-mana mulai lahir dan kerap kali menimbulkan polemik di antara kaum penganut agama terutama agama Abramik dengan kaum fisikawan dan astronom.

Lantas, Bagaimana Budaisme memberi sumbangan pandangan atau pemikiran mengenai alam semesta ini? Dalam menganalisis pemikiran Budha, penulis membuat perbandingan antara ajaran Budha dengan seorang tokoh filsuf yang cukup terkenal yaitu Ibn Rushd. Penulis merasa adanya persamaan sekaligus perbedaan yang mendasar antara Pemikiran Budha dengan pemikiran Ibn Rushd, yaitu mengenai hukum kausalitas alam.  Perbandingan ini diharapkan semakin menambah pemahaman mengenai ajaran Budhaisme.

Gagasan Ibn Rushd Mengenai Ciptaan

averroesIbn Rushd ( 520 – 595 H atau 1126 – 1198 M)  adalah seorang filsuf islam yang terkenal di dunia Barat. Ibn Rushd dilahirkan di kota Cordova, Andalusia (Spanyol – sekarang), berasal dari kalangan keluarga besar yang dikenal dengan keutamaan dan mempunyai kedudukan tinggi dalam ilmu, fikih, peradilan, politik dan administrasi di Andalusia (Spanyol). Pembelaan Ibn Rushd terhadap para filsuf atas serangan Al-Ghazali. Selain memberi penjelasan pada dunia Islam waktu itu, bahwa filsafat dapat digunakan untuk memahami dan mengerti tentang agama (Syari’at), Ibn Rushd juga mencoba membela para filsuf yang cenderung tidak disukai, atau bahkan dibenci. Salah satu pembelaanya adalah mengenai sifat alam.

Menurut Ibn Rushd, alam semesta tidak diciptakan dari sesuatu yang tidak ada (creation ex nihilo). Al’quran sendiri tidak pernah menyatakan bahwa Allah pada mulanya berwujud sendiri, yaitu tidak ada wujud selain dari diriNya, dan kemudian barulah dijadikan alam. Itu hanyalah tafsiran para teolog asyariah saja. Para Asyariah,  mengatakan bahwa Dunia bersifat temporal dan tercipta pada suatu waktu (hadith), dan partikel-partikel yang menyusun alam tercipta pada suatu waktu. Pandangan ini disebut sebagai pandangan temporalitas (dalil al-huduth), atau dalam paham Filsafat Solastikat Latin disebut a novitiate mundi.[1] Karena adanya konsep keterbatasan atau terciptanya alam pada suatu masa, maka muncul gagasan mengenai pencipta yang mencipta sekaligus tak tercipta, dan bersifat abadi.

Ibn Rushd menolak gagasan itu. Baginya, jika ada Pencipta yang bersifat kekal, maka alam juga bersikap kekal, karena alam merupakan manifestasi dari yang ilahi. Adanya alam bersama dengan adanya Allah yang sifatnya abadi dan tidak tercipta. Bahkan ia membuktikan dalam Al’Quran ada bukti alam itu tidak tercipta dari ketiadaan, tapi dari yang ada sejak semula bersama dengan Allah. “Dan Ialah yang menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam hari dan tahtanya (pada waktu itu) berada diatas air, agar ia uji siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Hud 8). Menurut Ibn Rushd, ayat ini mengandung arti bahwa sebelum adanya wujud lagit-langit dan bumi telah ada wujud yang lain,  yaitu wujud air yang di atasnya terdapat tahta kekuasaan Tuhan.

Selanjutnya, Ibn Rushd melihat adanya perbedaan antara para teolog dan para filsuf dalam mengartikan kata Al-ihdas (mewujudkan). Bagi para filsuf kata Alh-ihsad mengandung arti” mewujudkan dari tiada” sedang bagi para filsuf berarti” mewujudkan yang tak bermula dan tak berakhir”.  Dengan demikian konsep mengenai terjadinya alam bersifat kausalitas (qadim).[2] Namun uniknya, gagasan mengenai alam yang tak bermula dan tak berakhir Ibn Rush, menerima gagasan Tuhan sebagai sang Pencipta. Tuhan mencipta tidak dari sesuatu yang tidak ada (creatio ex nihilo) tetapi dari sesuatu yang sudah ada.

Gagasan Budhaisme Mengenai Ciptaan

Dependent OriginationSelanjutnya mengenai gagasan Budha mengenai ciptaan. Sebenarnya, ajaran Budha tidak pernah menyinggung mengenai gagasan atau konsep mengenai penciptaan. Bagi Budhaisme gagasan mengenai ciptaan biasanya berkaitan pula dengan pribadi yang mencipta. Pokok pemikiran Budha mengenai polemik ciptaan dan pencipta terungkap dalam doktrin Budha mengenai tiadanya jiwa atau annatta berasal dari analisa “diri” yang berupa Pancakhanda dan ajaran mengenai ketergantungan untuk keberadaan atau Pattica Samupadda. Bagi Budhaisme, segala sesuatu yang tercipta (sankhara) tidak kekal (anicca), segala sesuatu yang tercipta selalu berubah dan segala sesuatu dalam alam bukan substansi yang kekal dan tunduk pada persyaratan (anatta).[3]

Ada 4 kalimat ringkas dari rumusan Pattica Samuppada. Pertama, bila hal ini ada, maka akan adalah dia. Kedua, dari usaha menampilkannya, tampilan dia. Ketiga, bila halnya tidak ada, maka juga tak akan hadirlah ia. Keempat, dari usaha menghentikannya, maka berhentilah ia.[4] mau menegaskan bahwa semuanya yang ada mengalami ketergantungan. Hal ini berarti setiap ada itu ada sebabnya, punya kausalitas langsung. Tidak ada makluk religius (Tuhan??) yang bertanggung jawab atas adanya hal-hal yang bergantung. Proses mencipta dan dicipta berlangsung terus menerus tanpa awal dan akhir.

Ada dua yang hal berkaitan adanya segala sesuatu di kosmos ini. Pertama, Paticca Samuppada menolak adanya gagasan mengenai gagasan penyebab utama/tunggal, dan kedua menerima hukum sebab akibat (kausalitas). Menurut Paticca Samuppada, semua hal itu keberadaannya saling bergantung, di mana sudah ada dalam proses keberlangsungan, tanpa awal dan tanpa akhir. Setiap aspek terlibat dalam penciptaan dan kelangsungan aspek-aspek yang lain dalam keseluruhan proses.

Perbandingan Pemikiran Ibn Rush dan Paticca Samuppada

Titik persamaan antara pemikiran Ibn Rushd dengan ajaran Budha dalam Paticca Samuppada adalah gagasan mengenai alam yang tidak berawal dan berakhir. Keduanya beranggapan bahwa alam bukanlah realitas yang diciptak dari ketiadaan, tapi sudah ada yang selalu

Selama ini ada anggapan bahwa gagasan Paticca Samuppada disamakan dengan hukum kausalitas Aristoteles yang dihidupi Ibn Rushd. Memang kedua-duanya menganfirmasi adanya hubungan sebab akibat dalam terjadinya alam semesta. Namun, dalam Hukum kausalitas Aristoteles yang dihidupi, hubungan antara sebab dan akibat itu dari dua kejadian yang sama sekali berbeda. Bagi Ibn Rushd, sebab akibat dari segala sesuatu tetap bergantung pada satu sebab yang tidak pernah disebabkan atau diakibatkan. Inilah konsep Causa Prima yang diaffirmasi oleh banyak orang. Tuhan sebagai causa prima yang berperan dalam penciptaan sebagai penyebab pertama.

Sedangkan dalam Paticca Samupada, sebab dan akibat sangat erat berkaitan dan tak terpisahkan. Menurut Paticca Samuppada, tiap-tiap kejadian tidak dapat dipisahkan sangat nyata antara satu dengan yang lainnya karena keduanya dirangkai ke dalam pelaksanaan yang sama dengan tanpa kelanjutan. Tidak ada suatu kejadian pun di dalam dunia ini yang dapat dipisahkan sendiri dan suatu sebab tidak mungkin mengasingkan diri tanpa mendatangkan akibat.  Tidak ada makluk yang bersifat independen yang bertanggung jawab atas adanya hal-hal yang bergantung (dependen). Maka konsep Prima Causa, sebagai penyebab pertama yang tidak disebabkan tidak mempunyai tempat dalam pandangan Buddhis.

Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gagasan mengenai alam menurut Ibn Rush dan ajaran Paticca Samuppada Budhaisme mempunyai persamaan sekaligus perbedaan yang mencolak. Keduanya mengakui bahwa alam terbentuk dari proses atau hukum kausalitas. Semuanya saling menyebabkan. Selanjutnya alam tidak berawal dan tidak berakhir. Namun perbedaan yang mendasar adalah mengenai konsep Pencipta. Bagi Ibn Rushd hukum kausalitas berawal dari sebuah causa yang tidak disebabkan oleh yang lain. Itulah Tuhan. Sedangkan ajaran agama Budha menolak adanya causa yang tak disebabkan. Semua causa itu saling disebabkan dan menyebabkan, tidak ada causa prima. Semoga paper ini semakin membantu setiap orang dalam memahami pandangan Budhaisme dalam memandang alam semesta.

DAFTAR PUSTAKA

Ashin Jinarakkitha,

1957          Intisari Peladjaran Buddha Dhamma, Buddhis Magazines Press, Surabaya.

Bertens, K.,

1975          Sejarah Filsafat Yunani, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Majid Fakhry,

2001          Averoes: His Life, Works and Influence, Oneworld Publications, Oxford.

Mudji Sutrisno, FX.,

1993         Buddhisme, Pengaruhnya dalam abad Modern, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Nasution, Harun,

1973          Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Penerbit Bulan Bintang, Jakarta.

Sangha Theravada Indonesia,

1996          Pengabdian Tiada Henti, 20 Tahun Abdi Dhamma Sangha Theravada Indonesia, Penerbit Buddhis Bodhi, Jakarta.

Walpola Rahula,

1978         What the Buddha Taught, The Gordon Fraser Gallery Ltd., London.


[1] Majid Fakhry, Averoes: His Life, Works and Influence, Oneworld Publications, Oxford 2001, 75.

[2] Dr. Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta 1973, 52-53.

[3] Sangha Theravada Indonesia, Pengabdian Tiada Henti, 20 Tahun Abdi Dhamma Sangha Theravada Indonesia, Penerbit Buddhis Bodhi, Jakarta 1996, 132.

[4] FX. Mudji Sutrisno, Buddhisme, Pengaruhnya dalam abad Modern, Penerbit Kanisius, Yogyakarta 1993, 38.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s