HENRI DE SAINT SIMON PIONIR TEKNOKRASI MELAWAN PARA PARASIT

Ansart-Saint-Simon

 

Pendahuluan

Dewasa ini, industrialisasi merupakan sebuah ukuran mutlak menuju kemakmuran dan kemajuan suatu  bangsa. Negara-negara maju, seperti Eropa dan Amerika, menjadi kuat dan maju dalam perekonomian, karena mereka adalah negara-negara terdepan dalam mengembangkan industrialisasi. Industrialiasi seakan menjadi syarat mutlak sekaligus penopang lahirnya peradaban suatu negara yang terus berlari bersama proses modernisasi yang sulit dibendung.

Namun di balik itu, dunia industri tetap saja menyisakan masalah klasik yang masih saja terjadi, yaitu adanya kelas-kelas sosial yang timbul akibat persaingan dalam industri yang bebas dan liberal. Para kaum pemilik modal (kapital) merasa superior atau berkuasa dan berada pada kelas yang tinggi dibandingkan para buruh atau pekerja. Lebih mengerikan lagi jika dengan kemampuan modalnya, mampu menggandeng penguasa negara dan militer sebagai benteng pelapis superioritasnya. Hal ini membuat kritikan terhadap dunia industri yang demikian tetap deras nan pedas. Lantas bagaimana mengatasi realitas tersebut?

Seorang tokoh besar Prancis permulaan abad ke 19 telah melontarkan gagasannya berkaitan dengan permasalahan tersebut. Berkat usahanya yang gigih itu, ia dijuluki sebagai “Pendiri Sosialis Prancis” . Dialah Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint Simon! Meski ia mendukung industri namun ia mengembangkan pemikiran, bagaimana industri itu dijalankan sebagaimana mestinya.

 

Riwayat Hidup Saint Simon

Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint Simon atau lebih dikenal dengan nama Henri de Saint Simon Simon lahir pada tahun 1760 dan hidup sampai pada tahun 1825. Ayahnya adalah putra kedua Louis-Francois de St. Simon atau Marcuiest de Sundricour yang merupakan seorang tentara di bawah pimpinan raja Louis ke XIV. Henri merupakan putra tertua dari sembilan bersaudara.[1]

Pendidikan Saint Simon tidak tersistematis, dan dididik secara privat oleh para tutor pribadinya, di antaranya seorang Ensiklopedis d’Alembert, serta mempelajari secara otodidak dari pengetahuan ensiklopedi.

Kariernya cukup aneh. Pada tahun 1777, ia menjadi seorang tentara. Selain menjadi tentara ia juga merupakan seorang pengembara karena pada tahun 1787 ia menjadi menteri di Spanyol dan pada tahun 1783 ia juga dipilih menjadi wakil pemimpin untuk negara Meksiko mengawasi daerah Atlantik dan Pasifik.

Memulai karier militer pada usia 17 tahun, ia turus serta dalam perang Revolusi Amerika dan terluka dalam sebuah pertempuran di laut Saintes tahun 1782. Meskipun kemudian menyangkal, Ia secara aktif mendukung beberapa tindakan atau langkah yang diperkenalkan oleh Revolusi Prancis tahun 1789. Ia pun aktif dalam kehidupan politik di bawah undang-undang, serta turut berpartisipasi dalam negosiasi damai dengan Inggris di Lille.

Saint Simon akhirnya pensiun dari aktifitas pemerintahan dan finansial, dan memulai karier sebagi penulis yang terus digelutinya hingga akhir hidupnya. Sebelumnya, ia belajar fisika selama tiga tahun, dan pada tahun yang sama membentuk jaringan pertemanan dengan sejumlah Ilmuwan-ilmuwan terkemuka, dan penulis. Selanjutnya ia sering berpergian secara intensif, khususnya ke Jerman, Inggris, dan Swiss dan menghentikan perjalanan-perjalanannya pada tahun 1814, saat ia menemukan seorang kolaborator yang cakap dan bersemangat, Augustin Thierry seorang sejarawan.

Tulisan-tulisan Saint Simon mulai diterima publik  secara luas, khususnya di antara para manager dan pembisnis yang mulai berpengaruh selama era Napoeleonik. Daftar pelanggan dari publikasinya L’Industrie, tahun  pertama terbit tahun 1816, termasuk berbagai pelaku industri dan bankir terkemuka. Tahun berikutnya pertemanannya dengan Thierry berakhir, dan dia memulai sebuah hubungan dengan Auguste Comte. Kolaborasi antara dua pribadi yang kuat dan berpengaruh ini berlangsung selama tujuh tahun, tetapi akhirnya pecah karena sebuah perselisihan tahun 1824, setahun sebelum Saint Simon meninggal.

 

Sumbangan Pengalaman Hidup di Amerika

Pandangan Saint Simon banyak dipengaruhi oleh pengalamannya selama hidup di Amerika. Di Amerika, Saint Simon menemukan bahwa teologi dan moral telah terlampaui, di mana ajaran agama tidak mendominasi seluruh aspek kehidupan karena semua agama mendapat kedudukan dan hak yang sama. Negara menjamin kebebasan dalam kehidupan dan menekankan perlunya toleransi dalam kehidupan. Tentu saja kebebasan itu juga meresapi seluruh aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan ekonomi. Negara berusaha menjamin perkembangan moral positif di mana etika duniawi dan kehidupan industrial mendapatkan pendasaran secara baru yaitu tidak adanya tolerir bagi previlese kelas-kelas sosial dan eksploitasi hak-hak para buruh atau pekerja. Kedudukan negara lebih bersifat sebagai pengawas dan bukan pemegang peran sentral yang birokratnya tidak memeras kehidupan industrialisasi. Dalam masyarakat berkembang kehidupan yang bercorak liberal, demokrasi yang dilaksanakan atas dasar kerja. Maka tidak heran masyarakat lebih mementingkan perkembangan industri, jaminan kebebasan dan kepemilikan pribadi serta kebebasan publik, ketimbang hidup dalam oreintasi militeristik dan teologis agama yang cenderung dogmatis itu.

 

Konsep Kerja dalam L’Introduction

Dalam bukunya yang berjudul L’Introduction, Saint Simon mencoba melontarkan gagasannya terkait dengan ilmu, evolusi akal budi manusia, masalah etika dan politik.

Gagasan yang cukup besar adalah mengenai Revolusi. Bagi Saint Simon, revolusi merupakan hasil dari fermentasi moral dan konfliklah sumber perubahan atau revolusi. Konflik ini diawali oleh perkembangan budi manusia yang kemudian sampai pada tahap krisis. Sebuah langkah terbesar yang melahirkan perubahan atau momen sejarah selalu diawali dengan konflik berdarah, dan ia menunjuk sebuah Revolusi Perancis yang menjadi contoh nyata saat itu.

Selanjutnya ia menguraikan konsep kerja. Simon menegaskan bahwa kerja adalah esensi dari seluruh keutamaan.[2] Kerja itu ia kontraskan dengan sifat parasit atau pemalas. Kerja merupakan keharusan bagi setiap manusia, di mana lewat kerja manusia mengungkapkan kegiatan yang produktif, khususnya dalam bidang sastra atau seni, ilmiah, dan teknik. Produktifitas manusia melalui kerja merupakan sebuah tindakan yang utama dalam rangka melawan tindakan manusia yang kontraproduktif, menjadi beban kehidupan, kekosongan hidup dan bahkan lebih ekstrim lagi tindak pencurian. Maka melalui rangkaian kegiatan produktif lewat kerja, kesadaran menemukan pemenuhan nilainya. Ia menegaskan bahwa eksistensi manusia tanpa kerja sebagai ungkapan kebebasan dalam industrial adalah sebuah kematian. Maka para pemalas, dan parasit harus dilenyapkan.

Selanjutnya ia mencoba menghubungkan antara industri dengan konsep kerja. Baginya, industri merupakan semua produksi kreasi sosial, tindakan menghasilkan harmonisasi alam dan sebuah idealisasi yang real. Selain itu, industri merupakan mediasi yang tepat dan memungkinkan terjadinya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia.[3]

Gagasan Saint Simon terangkum dalam sebuah teori yang disebut sebagai “Filsafat Kerja”. Teori ini mencoba menjelaskan mengenai dunia di mana manusia mencoba melenyapkan hal yang mengasingkan dirinya dan membentuk sesuatu yang khas dalam dirinya. Semua kelas sosial dan semua hal tergantung pada industri. Dalam jaman produksi, imperatifnya adalah penciptaan teknik. Maka Ia membagi kelas sosial menjadi dua kelas, dengan tolak ukur adalah kerja atau industri. Pertama, kelas produktif, yaitu para pelaku kerja atau industri, dan kedua kelas non produktif, yang tidak menyumbang atau menghasilkan sesuatu demi terbentuknya masyarakat industri yang terdiri dari raja (kaum feodal), para pemimpin agama (hirarki), dan parasit para pemalas, yaitu para birokrat pemerintahan.

 

Demistifikasi Peran Pemerintah atau Negara

Selanjutnya, Saint Simon juga mengkritisi mengenai peran Negara dalam kehidupan masyarakat industri. Bagi Saint Simon, Negara merupakan kekuatan yang tidak jelas dan mengancam. Dalam prakteknya negara menjadi penguasa dalam imaginasi yang dikuasai dan didengungkan secara berlebihan. Ia melihat adanya Demistifikasi peran Pemerintah atau Negara.[4]

Saint Simon prihatin dengan situasi saat itu. Ia melihat bahwa Pemerintah atau negara seolah-olah bekerja bagi seluruh warganya padahal dalam praksis, negara tidak bekerja. Tugas negara hanyalah mengawasi jalannya gerak kerja industrialisasi dalam masyarakat, bukan malah mengontrol atau lebih parah lagi menguasai gerak industri itu. Saint Simon menegaskan bahwa yang mengarahkan secara nyata atau riil gerak produksi agar dapat berjalan dengan semestinya bukanlah para politisi, birokrasi atau militer tetapi para pelaku dalam kelas-kelas produktif yaitu para praktisi ekonomi dan ahli teknik. Maka bagi Saint Simon sistem pemerintahan atau pengaturan negara yang tepat adalah sistem teknokrasi yaitu sistem pemerintahan yang diatur oleh para ahli atau teknisi.

Saint Simon juga mencetuskan perlunya konsep  ekonomi-politik dan kebebasan kelompok. Dalam bukunya L’Organisateur, Saint Simon menegaskan bahwa yang paling utama dalam pemerintahan atau negara bukanlah fenomena politik, tapi organisasi ekonomi. Jika peran organisasi ekonomi rasional dan memuaskan sehingga membawa kemakmuran bersama bukan individual, maka politik lambat laun akan kehilangan posisi atau kekuasaannya. Ia terus menerus mendengungkan keprihatinannya terhadap politik negara saat itu dengan terus mendorong terciptanya gerakan untuk mewujudkan model ekonomi-politik, sehingga kebebasan kelompok tidak ditekan oleh kekerasan atau ketakutan. Untuk mewujudkannya perlu adanya usaha untuk melenyapkan institusi-institusi koersif seperti partai-partai politik dan militer. Sistem politik yang tidak berhasil mewujudkan kepentingan massa, biasanya sistem itu lalu menggunakan kekuatan-kekuatan koersif untuk bisa bertahan lewat tindakan seperti intimidasi yang menimbulkan kekerasan atau ketakutan.

`

Kekristenan Baru

Saint Simon juga jeli melihat bagaimana realitas kekuasaan gereja di Perancis pada jamannya. Para pemimpin gereja bersama para kaum penguasa negara dan kaum feodal, memegang kekuasaan yang amat kuat dalam pemerintahan Perancis. Saint Simon sadar akan pentingnya moral dan masyarakat yang ideal dalam usaha mengembangkan harmoni dan rasa tujuan komunitas-komunitas humanis.

Selama abad Pertengahan agama Kristen telah menunjukkan sepak terjang dan pengaruhnya, dan dia berpikir bahwa sebenarnya ada sebuah sistem kepercayaan-kepercayaan yang sebanding dengan Kekristenan, yang diadaptasi dari pengetahuan kontemporer, dalam masyarakat modern yang dapat berjalan. Awalnya, ia mencoba mengarahkan penciptaan sistem seperti itu berdasarkan filsafat, namun belakangan pada masa akhir hidupnya, ia mengusulkan untuk kembali pada prinsip fundamental dari ajaran Kristiani. Meski demikian ia memaknai prinsip dasar ajaran Kristiani itu secara baru. Kekristenan pertama-tama bukan sebagai melulu dogmatis, namun menjadikan sebagai proyek jiwa dalam pembentukan suatu sistem industri yang didirikan atas dasar cinta kasih. Selama ini agama kristiani gagal melaksanakan perintah injili sehingga mengalami dekadensi.

Tujuan utama kekristenan dalam sistem industri seharusnya adalah perbaikan nasib kelas proletar, yang selama ini tersisih oleh kaum klerus, yang bekerjasama dengan birokrat, borjuis-feodal. Kekristenan baru merupakan penjelmaan ajaran persaudaraan yang sejati dan kebahagiaan masa kini bukan masa depan. Maka tugas gereja adalah ikut serta menghasilkan kesejahteraan umat secara konkret dalam perbaikan hidup manusia yang tercapai lewat kerja. Untuk itu, Kekristenan yang baru harus bekerjasama dengan kelas produktif yang didasarkan pada pengetahuan suci: seni, ilmu, dan industri sebagai trasnposisi Injil.

 

Pengaruh pemikiran Saint Simon

Selama hidupnya, pandangan-pandangan Saint Simon berpengaruh amat kecil; ia hanya meninggalkan beberapa murid yang melanjutkan kerangka pemikirannya. Murid yang paling penting adalah Olinde Rodrigues, murid kesayangan Saint Simon, dan Barthelemy Prosper Enfrantin, di mana keduanya menerima pengajaran-pengajaran terakhir Saint Simon. Langkah pertama mereka adalah menerbitkan sebuah jurnal, berjudul Le Producteur, tetapi tidak berlanjut pada tahun 1826. Kelompok pendukung gagasan Saint Simon mulai berkembang, dan sebelum akhir tahun 1828, telah mengadakan pertemuan-pertemuan tidak hanya di Paris tetapi di banyak ibu kota propinsi di Perancis.

Beberapa laporan yang memadai menilai adanya pengaruh yang kuat pada sekretaris-sekretarisnya yang terkenal yaitu August Comte dan Augustin Thierry, dan beberapa anggapan pengaruh pada serangkaian para teroritikus sosial politik yaitu John Stuart Mill dan Karl Marx, para penulis yaitu Heinrich Heine dan George Sand, dan para pemusik Franz List dan Hector Berlioz.[5]

 

Penutup

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peran Saint Simon cukup penting dalam perkembangan Filsafat sosial. Pemikirannya yang mencoba menekankan pentingnya kerja dalam sebuah pemerintahan, membuat segala sesuatu dilihat dari sudut pandang kerja atau industri. Pengaturan negara berdasarkan sistem ekonomi politik yang mengarah pada sistem Teknokrasi, dan jaminan hidup yang lebih baik bagi kaum pekerja, merupakan sumbangan yang besar bagi gerak kehidupan di Perancis. Melalui gagasan-gagasannya ia mau menampilkan pentingnya peran para pekerja atau proletar, dan mengkritik pemerintahan yang selalu memihak pada penguasa, birokrat, militer, kaum feodal dan pemimpin agama, yang lebih dianggapnya sebagai parasit dan pemalas yang tidak memberikan kontribusi sama sekali dalam hal produksi. Pemikirannya ini berpengaruh lahirnya paham sosialisme yang mengusung semangat kepemilikan bersama, sebagai bentuk perlawanan terhadap kapitalisme-liberalisme.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gardiner, Patrick,

1967    Saint Simon, Claude Henri De Rouvroy, Comte de (1760-1852), dalam Encyclopedia of Philosophy Vol. 7, The Macmillan Company & The Free Press, New York.

 

Haryatmoko,

2009    Diktat Filsafat Sosial, Promanuscripto Fakultas teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

 

Leopold, David,

1998      Saint Simon, Claude Henri De Rouvroy, Comte de (1760-1852), dalam Routledge Encyclopedia of Philosophy, Routledge, London.

 

Markham, Felix (ed.),

1964    Social Organisation, the Science of Man and Other Writings, Harper & Row Publisher, New York .

 

 


[1]  Felix Markham (ed.), Social Organization, the Science of Man and Other Writings, Harper & Row Publisher, New York 1964, xi-xix

[2] David Leopold, Saint Simon, Claude Henri De Rouvroy, Comte de (1760-1852), dalam Routledge Encyclopedia of Philosophy, Routledge,  London 1998, 446.

[3] Haryatmoko, Diktat Filsafat Sosial, Promanuscripto Fakultas teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta 2009.

[4] Haryatmoko, Diktat Filsafat Sosial

[5] David Leopold, Saint Simon, Claude Henri De Rouvroy, Comte de (1760-1852), dalam Routledge Encyclopedia of Philosophy, 447.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s