MAX SCHELER

 

Max Scheler: nilai material

Dalam Der Formalismus in der Ethik und die materiale Wertethik(1913), Scheler membedakan antara nilai material dan nilai formal sebagaimana diajarkan Kant.

Scheler berpendapat bahwa etika yang mendasarkan diri pada nilai material di luar perintah moral itu tidak harus bersifat relatif. Perintah moral bukanlah forma kosong, melainkan berelasi dengan nilai di luarnya. Maka nilai di luar itulah yang sebenarnya mendorong tindakan etis. Perbuatan baik bukan sekedar menuruti perintah bukta, melainkan perbuatan yang ditarik kepada nilai material di luar kita. Obyek yang menjadi pamrih seperti yang dinilai Kant bisa saja bersifat independen, tak berubah, obyektif yang dapat menempati obyek apapun. Nilai itu disebut indah, baik, benar. Dsb.

 

Teori Scheler tentang (tataran) nilai.

Karena nilai mandiri atau independent, maka ia punya tingkatan-tingkatan.

  1. Nilai kesenangan atas dasar penangkapan inderawi
  2. Nilai vital yang mendukung kehidupan dan peradaban, menyangkut pengalaman yang lebih mendalam seperti rasa takut, lemah, kekasaran, kehalusan, kekuatan dan kelemahan, kesehatan, kesakitan dsb.
  3. Nilai-nilai rohani, seperti nilai esteti menyangkut rasa keindahan nilai epistemologis yang menyangkut benar salah, rasa keadilan dan ketidak adilan
  4. Nilai religius, berkaitan dengan yang kudus.
  5. Nilai rohani dan religius berlaku untuk makluk manusiawi sebagai ukuran pribadi. Nilai tidak tergantung bendanya, namun memberi kualifikasi/sifat pada benda/kegiatan.

Moral diluar tataran itu, namun pencerapan dari manusia terhadap nilai tu dan perwujudan nilai dalan tindakan manusia. Tidak dalam hirarki tapi dalam realisasinya. Nilai moral menumpang pada nilai itu dan tidak dapat berdiri sendiri. Suatu tindakan baik secara moral jika dijalankan dalam rangka memilih nilai yang lebih tinggi atau sebaliknya.

 

Ajaran Scheler tentang cinta.

Menurut Scheler ada tiga macam kegiatan manusia yang memeri ciri khasn kemanusiaanya sebagai pribadi

  1. Refleksi yaitu kegiatan membuat dirinya sebagai obyek pemikiran
  2. Abstraksi atau ideasi, menangkap hakekat dari keberadaan di luar dirinya (eksistensi).
  3. Cinta. Cinta merupakan kegiatan paling penting sebagai pribadi. Cinta dan benci dalah tindakan primordial manusia yag mendasarsi tindakan lain. Pribadi dapat diukur dari cintanya.

Ajaran mengenai cinta ini dipengaruhi Plato dan Agustinus yang menampakkan sifat mistis dan religius. Pengetahuan penting yang melibatkan pribadi berpartisipasi dengan yang esensial/hakiki. Berfilsafat bukan pertama-tama abstraksi tapi moral yaitu cinta.

Cinta merupakan bagian pribadi manusia yang diarahkan  kepada nilai absolut. Cinta ini megarahkan pribadi melampaui keterbatasannya (unsur transendensi). Yang diperlukan adalah penyerahan diri, kesetiaan pada institusi dengan melepaskan segala a priori. Bukan kenginan untuk menguasai. Perlu kerendahan hati dan penguasaan diri.

Ia menemukan tiga kenyataan filsafat:

  1. Ada sesuatu
  2. Ada yang absolut
  3. Ada itu punya hakekat/esensi (Wesen) dan eksistensi (Dasein), yang ada selalu diketahui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s