SEPUTAR FILSAFAT KONTEMPORER

RINGKASAN MATA KULIAH SEJARAH FILSAFAT KONTEMPORER

 Ajaran Durkheim mengenai Totem:

Durkheim memandang agama lebih pada sisi sosiologis. Maka agama baginya “hanya” semacam Totem. Totem adalah gambar binatang yang menjadi objek penyembahan masyarakat. Totem bukan dewa, karena dari dalam dirinya tidak ada nilai-nilai religius/transendensi. Totem lebih sebagai simbol yang kuat dari sebuah suku bangsa yang mempunyai daya perekat atau pemersatu semua anggota dalam suku/masyarakat tertentu (lebih bernilai sosial).  Masyarakat  atau sosialitas sendirilah yang berperan sebagai dewa dan mempunyai wibawa moral karena idealitasnya yang tinggi. Maka individu yang takut kepada Totem, berarti takut pada masyarakatnya sendiri. Ini diperlukan agar mereka taat dan setia pada nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.

Perbedaan Logika Formal (logika simbol) dan logika klasik (Aristoteles)

Logika adalah pengetahuan tentang forma, bukan materi; yaitu abstraksi atau generalisasi umum dari materi maupun ide-ide.

Pembeda Logika Klasik (Aristoteles) Logika Formal
Tujuan Logika adl alat (organon) untukmengutarakan kebenaran atau kenyataan Logika kepentingannya mencapai kepastian Ilmiah, kelurusan penalaran
Bentuk pernyataan Menggunakan pernyataan-pernyataan berupa frase atau kalimat, misalnya “silogisme” Mengganti pernyataan frase/kalimat dengan simbol
kepastian Pernyataan dalam bentuk frase/kalimat mengandung unsur ketidakpastian (kondisional), bukan murni konsep/pemikiran tetapi common sense (perasaan), belum menjamin kepastian Memperlihatkan kepastiandengan mengikuti polamatematika (Gootlob Frege)
Peran logika Hanya sebagai sarana (organon) Justru menjadi objek kajian pokok sebagai hukum-hukum pemikiran
Forma-materia Pemikiran (forma) dan pengalaman(material) masih tercampur misal: Bapak-Ibu dalam bhs Indonesia Pemikiran dan pengalaman sudah mulai dibedakan

Pokok Pemikiran Wittgenstein

Wittgenstein I (semasa di Jerman Austria)

Pada periode pertama, pemikiran Wittgenstein dikenal sebagai paham Picture Theory (teori gambar) dalam buku yang berjudul Tractatus logico-philosophicus. Teori ini menjelaskan peran bahasa yang melukiskan kenyataan yang ada secara tepat dan konsekuen. Sesuatu yang tidak nyata, atau non pengalaman indrawi tidak dapat diungkapkan dalam bahasa. Baginya, gambar bukan sesuatu yang dapatmelukiskan kesamaan material belaka, melainkan kesamaan struktural. Jadi sesuatu yang tak dapat dilukiskan, bukan merupakan sebuah kenyataan atau fakta. Dengan kata-kata seseorang ingin melukiskan kata-kata.

Wittgenstein berpendapat bahawa fakta merupakan hal yang kita alami (bdk. pandangan Aguste Comte). Setiap fakta adalah “primitive sign” di mana kehadirannya menjadi petunjuk atau tanda. Setiap kata dalam bahasa menerangkan fakta. Dengan demikian kumpulan kata menerangkan fakta yang lebih besar. Menurutnya pula, konsep “Ada” bisa dinyatakan dalam pernyataan atau preposisi dan setiap preposisi bernilai sama.

Berkaitan dengan bahasa, Wittgenstein yakin bahwa filsafat bertugas menjelaskan fungsi dan peran bahasa dan bahasa itu bisa dijelaskan jika merupakan hasil pengalaman inderawi. Maka berbicara mengenai fakta dalam bahasa harus berasal dari realitas riil. Suatu bahasa jika tidak ada kenyataan bukanlah sebuah deskripsi atau penjelasan namun sebuah ajaran yang spekulatif. Pandangannya ini mempunyai konsekuensi logis. Karena fakta itu adalah kenyataan, maka pembicaraan mengenai fisafat spekulatif atau metafisika bukanlah sebuah kenyataan. Memang ia menerima agama, namun hanya sebatas sebuah fakta sosial karena secara inderawi ada. Namun isi ajaran agama atau morallah yang hanya omong kosong, karena bersifat spekulatif karena berangkat dari penalaran.

Wittgenstein II (Kembali ke Cambridge)

Sekembali dari Cambridge, Wittgenstein mulai memunculkan gagasan baru mengenai bahasa, karena ia menyadari pandangannya pada periode pertama kurang berhasil. Bahasa mulai dipahami dalam konteks pemakaiannya, tidak sebagai hukum yang terlepas atau terpisah dari kondisi aktual. Pemikirannya ini ia rumuskan dalam bukunya Philosophical Investigations dengan istilah Language Games atauPermainan Bahasa. Menurut pandangan ini, bahasa berperan tergantung dimana ia digunakan. Misalnya aturan bahasa permainan Basket yaitu menggunakan tangan dan tidak boleh menggunakan kaki, hanya akan berperan efektif jika diterapkan dalam pertandingan atau permainan bola basket. Aturan ini tidak akan efektif atau baik jika digunakan pada pertandingan atau permainan sepakbola, karena Sepakbola mempunyai aturan atau bahasanya sendiri.

Dengan demikian, bahasa tidak lagi hanya ditangkap dalam pengertian semantik sempitdalam batasan morfem, melainkan dalam keseluruhan kekayaan ekspresi manusia, termasuk yang di luar logika atau penalaran. Hal ini berarti Wittgenstein menghargai penggunaan bahasa sehari-hari yang mempunyai nuansa yang kaya.

Pendirian dasar dan ciri-ciri Neo- Positivisme

Hanya ada satu sumber pengetahuan saja, yaitu pengalaman

Suatu ungkapan (preposisi) hanya punya arti jika dapat diperiksa lewat fakta yang dapat diamati secara inderawi.

Ciri-ciri:

-Memisahkan dengan tegas pengetahuan empiris dan dalil-dalil logika yang merupakan sarana pengolahan. (bdk. A. Comte masih mencampurnya)

menolak metafisika (agama-moral-sastra) karena dianggap sbg getaran jiwa (the emotional use of language)

menolak pengkhususan ilmu-ilmu kemanusian dari ilmu alam, semua ilmu harus menggunakan satu-satunya bahasa ilmiah yang logis dan ketat.

-Tokoh Moritz Schilck (tugas filsafat hanya klarifikasi arti, bahasa universal utk komunikasi semua ilmu), Rudolf Carnap (pernyataan tidak dpt benar/salah lewat pengalaman inderawi adalah pernyataan tak berarti/non sense, kembangkan arti pangalaman baru untuk ilmu-ilmu baru mis fisika atom)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s