IMAN DAN PRAKSIS KRISTEN DALAM BUDAYA KONSUMEN

Dalam buku Consuming Religion: Christian Faith and Practice in a Consumer Culture karya Vincent J. Miller

Vincent J. Miller:  ini bukanlah buku tentang perlawanan agama terhadap budaya konsumtif, namun adalah buku tentang nasib agama dalam budaya konsumtif. problematik Konsumerisme bukan soal konsumsi barang-barang, tetapi soal cara kita memperlakukan sesuatu, termasuk agama, sebagai obyek konsumsi.

Masalah tidak terletak pada level kepercayaan (beliefs), namun pada level praksis (practices). Masalahnya terletak pada cara dimana struktur dan praksis  dari budaya konsumen “menjinakkan” kepercayaan dan praksis religius.

Consumer Culture adalah Menunjuk pada praksis-praksis ekonomi sosial dan budaya yang dihubungkan dengan manufaktur, marketing, penjualan, dan belanja komoditas. Consumer Culture mulai antara akhir abad XIX dan awal abad XX, segera setelah revolusi Industri mulai pada abad XIX. Situasi ini mengubah tatanan masyarakat secara dramatis, baik secara ekonomi maupun budaya. Tokoh yang berpengaruh: Karl Marx (1818-1883), seorang Filsuf Jerman, Sejarawan, Ahli ekonomi, sosiolog sekaligus jurnalis, berperan penting dalam terbentuknya teori “Budaya Konsumen”.

Orang dulu menggunakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, namun pada era ini orang-orang mulai “berhasrat” pada komoditas-komoditas pada level Connotative. Kebangkitan aestheticization”  meningkat ketika “Brands” mulai memainkan peran dalam menentukan tipe gaya hidup seseorang berdasarkan barang dan jasa yang mereka gunakan. Aestheticization” adalah Sebuah Proses di mana barang-barang konsumen ditumpangi dengan makna dan nilai tambahan. Misal: nilai guna Pakaian pada dasarnya adalah untuk menutupi tubuh. Kini nilai gunanya bertambah yaitu menjadi penentu kelas sosial atau mengikuti perkembangan mode.

“Cultural consumption” mulai lebih menonjol, ketika produk-produk dan pelayanan jasa menolong orang mendefinisikan dari kelas sosial apa mereka berasal. Konsumsi barang terutama untuk menunjukkan kekayaan ekspresif dan simbolik.  Misalnya, Makan di Western Restaurant  dianggap lebih berkelas dari pada angkringan. “Cultural consumption” adalah Budaya “Konsumen” (Consumer “Culture”) bukan semata sebuah seperangkat ideologis tertentu.

Budaya konsumen terutama mengenai tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan (seperangkat kebiasaan-kebiasaan penafsiran dan praksis) yang membuat “content” kepercayaan dan nilai-nilai menjadi kurang penting.

Masalah utama budaya konsumen itu bukan semata materialisme egoisme, dan semangat narsisisme konsumen, namun struktur-struktur yang membingungkan dan menyesatkan pencarian niat-niat baik orang untuk melakukan hal-hal yang baik seperti rasa solidaritas terhadap liyan, transformasi spiritual dan praksis keyakinan religius mereka secara sungguh-sungguh.

Kata kunci adalah comodification yaitu Transformasi barang dan jasa (ide-ide juga)menjadi komoditas. Berasal dari gagasan Karl Marx.

Miller berpendapat bahwa budaya konsumen tidak sekedar jalan hidup yang mempengaruhi barang fisik yang kita beli. Budaya ini telah mempengaruhi semua medan hidup kita, termasuk pendekatan kita dan praksis agama kita. Budaya ini mereduksi semua hal-hal religius (kepercayaan, nilai-nilai, dan simbol) sebagai obyek semata bagi konsumsi dari pada sebagai sistem nilai yang memberi bimbingan dan pemaknaan hidup.

Miller mengindentifikasi dua hasil spesifik dari komodifikasi agama: abstraksi dan fragmentasi. Ia menggunakan contoh wajah Muder Teresa yang dicetak pada kaos oleh anak-anak Amerika. Sosok Muder Teresa telah tercerabut dari realitas konkret hidupnya, gaya hidup yang religius dengan tradisi katoliknya, dan menjadi semacam komoditas belaka.

Singkatnya, material-material religius, telah dilemparkan ke pasar kultural, dimana hal itu dapat direngkuh dengan penuh antusias, namun namun tak meletakkanya pada praksis.

Contoh lain adalah perayaan Natal. Perayaan kelahiran Yesus, yang menghidupi hidup sederhana bersama orang-orang marginal dan mati layaknya kematian seorang kriminal, dikontraskan dengan budaya Barat yang mentransformasikannya menjadi sebuah pesta pora, minum-minum memabukkan dan menuruti hal-hal yang tak berharga.

Miller memandang ada kemiripan sekaligus perbedaan antara budaya konsumen dan agama. Persamaan adalah keduanya sama-sama berakar dari mengolah, mempromosikan dan meneruskan hasrat (desire). Namun perbedaannya adalah mengenai pemaknaan Hasrat.  Hasrat dalam Christianitas mengenai sebuah kekosongan dimana orang pemenuhan dalam Allah dan sesama sedangkan hasrat budaya konsumen  ialah mengenai diri, mengenai berimaginasi dan berusaha mewujudkannya, dan hasrat itu tak pernah berhenti atau terpuaskan.

Miller percaya bahwa ada dua kelompok dalam agama Kristen yang dapat melawan budaya konsumen. Pertama, religiusitas populer yang telah berakar di tengah massa, termasuk mereka yang tertindas. Ini sangat luas dan konkret dalam hidup harian, dimana para pengikutnya mengadaptasi dan menerapkan  doktrin dan simbol dalam hidp konkret dan memberinya makna. Agama seharusnya tidak terbatas pada bidang spiritualitas belaka, namun berurat berakar pada politik, masyarakat, ekonomi, lingkungan dan sebagainya. Ini tidak mudah, dan membutuhkan proses yang terus menerus, dengan keteladanan Yesus dan karyaNya di bumi. Oleh karena itu, membaca Injil menjadi langkah awal.

Kelompok kedua, para pemimpin gereja dan teolog. Mereka mesti membawa  tradisi Kristiani kepada massa melalui penafsiran, penajaman, dan panduan teologi dan bagaimana iman itu dipraktekkan. Namun, mereka juga perlu menggunakan studi yang mereka dapatkan dari agama populer dan yang hidup, sehingga mampu membangun respon yang kreatif. Kristianitas harus menjadi lebih reflektif, sebagai the ‘Abrahamic wanderings’ of Christians. Ini mengenai menanggapi sebuah panggilan untuk bergerak dan melewati batas-batas sesuai dengan konteks.

teolog (Orlando Espin & Sixto Garcia) memandang bahwa religiusitas populer dan refleksi teologis elit adalah dua komponen esensial dari katolisitas Gereja. Sensus fidelium: sensibilitas religius populer/ Intuisi orang beriman.

Popular Religion

Kata populer sering dianggap berkonotasi negatif. Berabad-abad dianggap percampuran antara iman dan budaya pagan. Konferensi Para Uskup Amerika Latin di Midellin (1968) memandang agama populer secara negatif, yaitu sebuah manifestasi “semi-pagan” dari budaya kafir, meski juga mempertimbangkan adanya “rasa religius yang otentik”. Ad Gentes : “benih-benih Sabda”. Evangelii Nuntiandi: Evangelisasi budaya-budaya

Tanggapan Kristianitas

Pertama, untuk melawan kelemahan pada level komitmen,Pemimpin Gereja harusnya menekankan pentingnya tadisi iman. Kedua, Gereja harusnya terbuka, melalui dialog yang dibentuk antara hirarki dan umat, sehingga dapat membangun pendekatan Kristiani secara lebih holistik dalam menghadapi konsumerisme. Ketiga, membangun komunikasi baru secara umum antara Gereja dan kaum awam.  Keduanya dapat saling berbagi bersama dalam komunitas, yang merefleksikannya dalam hidup konkret dan tradisi Gereja.

Nilai-nilai baru komunitas dan tradisi akan menggantikan individualistik dan berorientasi pada diri akibat konsumerisme. Miller telah menunjukkan bahwa ada cara-cara nyata dimana kita dapat bekerja dengan budaya, membangun gereja yang membagikan makna hidup dalam spiritual, politik, ekonomi, dan dengan pendekatan yang holistik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s